Manfaat Gulma Ajeran (Bidens pilosa L.)
Sebagai Pestisida Nabati
Pengendalian hama menggunakan pestisida sintetik yang
terlalu sering dan menggunakan dosis yang tinggi menimbulkan sejumlah dampak
negatif, diantaranya adalah mengganggu kehidupan jasad renik dalam tanah serta
terjadinya deposit insektisida dan akhirnya menjadi residu pada tanaman
(Tarumingkeng, 1992). Dampak buruk yang
ditimbulkan akibat penggunaan pestisida mendorong para ahli-ahli pertanian
menggunakan metode lain yang dapat dilakukan untuk mengurangi penggunaan
insektisida dalam usaha pengendalian hama tanaman. Metode lain yang pada saat
ini terus dikembangkan adalah dengan cara metode nabati yang memanfaatkan
senyawa beracun yang berasal dari tumbuh- tumbuhan dan gulma.
Gulma ajeran (Bidens pilosa L.) atau juga sering disebut Rumput
Hareuga dipilih karena sangat banyak tumbuh disemua jenis tanah dan mudah
ditemukan. Ajeran (Bidens pilosa L.) merupakan gulma yang tergolong dalam
famili Asteraceae yang diduga memiliki senyawa metabolit sekunder yang dapat
dimanfaatkan sebagai insektisida nabati terutama untuk mengendalikan hama
Plutella xylostella L. (hama ulat utama yang menyerang tanaman golongan
Brassicaceae, terutama tanaman kubis, sawi, kembang kol, brokoli, dan selada). Ajeran
(Bidens pilosa L.) juga mampu mengendalikan hama kutu daun, ulat tanah dan
jenis hama tungau. Kandungan senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada
Bidens pilosa L. seperti flavonoid, terpenoid, lemak benzenoid, terpen dan
fenilpropanoid diduga dapat menyebabkan penurunan aktivitas makan dari P.
xylostella, bahkan dalam konsentrasi tertentu dapat mengakibatkan mortalitas
pada P. Xylostella. Bagian yang dapat digunakan adalah biji dan seluruh bagian
tanaman yang berada di atas tanah.
Dalam bahasa Inggris tanaman ajeran memiliki nama hairy
beggarticks, Spanish Needle, Blackjacks,
dan Beggar ticks. Menurut sejarah tanaman ajeran ini berasal dari Afrika
selatan.
Rumput ajeran sering ditemui ditanah-tanah kosong dan
dipinggiran jalan namun terkadang tumbuhan ini sengaja ditanam untuk dijadikan
tanaman hias karena mempunyai bunga yang cukup menarik.
Tanaman ajeran merupakan salah satu tanaman jenis tanaman
dari keluarga tanaman berbunga ( Asteraceae). Tanaman ajeran ini tanaman terna
dimana ukurannya dapat mencapai 150 cm. Batang tanaman ajeran berbentuk segi
empat berwarna hijau. Daun tanaman ajeran terbagi tiga masing-masing berentuk
bulat seperti telur bertekstur agak berambut. Tepi daun tanaman ajeran
bergerigi. Bunga tanaman ajeran bertangkai panjang dengan ukuran 9 cm. Bunga
tanaman ajeran berkumpul terminal muncul pada ketiak daun. Ukuran bongol bunga
tanaman anjeran 5–7 mm tingginya, dengan diameter bunga tanaman ajeran 7–8 mm,
tanaman ajeran berkelamin ganda, tanaman ajeran memiliki 20–40 bunga yang berjejalan. Kelopak bunga
tanaman ajeran berjumlah 5–7. Mahkota bunga tanaman ajeran berwarna putih
dengan putik berwarna kuning. Akar tanaman ajeran berserabut putih kecoklatan.
Buah tanaman ajeran bertekstur keras dengan bentuk ramping memanjang dengan
ukuran 0,5–1,3 cm, berwarna coklat kehitaman bila telah masak, dengan 2–3
kaitan serupa jarum berduri di ujungnya yang mana digunakan untuk melekat
bijinya tubuh binatang yang akan menyebarkannya (epizoik). Cara tanaman ajeran
berkembang biak dengan biji. Habitat tanaman ajeran ini berada pada dataran
rendah sampai ketinggian 2.300 m dari permukaan laut, dengan syarat hidup tanah
yang lembap dan sinar matahari penuh.
Senyawa flavonoid dan terpenoid yang terdapat dalam Ajeran
(Bidens pilosa L.) dapat membunuh serangga sasaran dengan cara masuk ke
pencernaan melalui makanan yang mereka makan. Kematian larva akan semakin
meningkat dengan makin tingginya konsentrasi ekstrak. Senyawa terpenoid diserap
oleh saluran pencernaan tengah yang berfungsi sebagai tempat penghancuran makanan.
Cara
sederhana membuat pestisida dari bahan rumput hareuga ( ajeran ):
Siapkan ±0,5-1 kg rumput ajeran atau rumput hareuga,
kemudian rumput dirajang hingga lembut setelah itu rendam hasil rajangan rumput
ajeran kedalam air sebanyak 1-2 liter selama 24jam, air hasil rendaman tersebut
kemudian disaring sampai getah yang terdapat didalam-nya keluar. Untuk
pemakaian tambahkan sabun atau deterjen secukupnya dengan tujuan sebagai
perekat. Semprotkan keseluruh bagian tanaman atau bisa juga disiramkan ke tanah
disekitar tanaman. Larutan ajeran ini sangat baik untuk digunakan sebagai
pestisida nabati karena aman untuk organisme yang berguna.
*Tombol-tombol diatas mengandung iklan. Untuk menuju artikel yang diinginkan silahkan tunggu 5 detik hingga muncul tombol "skip ad" kemudian klik tombolnya, jika tidak muncul tombol "skip ad" harap refresh halaman tersebut (dimohon keikhlasannya demi eksistensi website ini). Iklan-iklan yang muncul bukanlah virus, Apabila terbuka jendela iklan yang baru (POP UP) silahkan tutup halaman tersebut (tekan tombol kembali untuk pengguna android). Jika tombol tidak bisa diklik silahkan refresh halaman ini.
Manfaat Bayam duri (Amaranthus spinosus)
Sebagai Pestisida Nabati
Bayam duri (Amaranthus spinosus) termasuk jenis tumbuhan
amaranth. Tumbuhan ini mempunyai batang lunak atau basah, tingginya dapat
mencapai 1 meter. Bayam duri dapat tumbuh baik di tempat-tempat yang cukup
mendapat sinar matahari dengan suhu udara antara 25 - 35 oC. Tumbuhan ini
banyak tumbuh liar di kebun-kebun, tepi jalan, tanah kosong dari dataran rendah
sampai dengan ketinggian 1.400 m dpl. Tumbuhan ini dapat dikembangbiakkan
melalui bijinya yang berbentuk bulat, kecil dan berwarna hitam. Tanda khas
tumbuhan bayam duri adalah pada batang, tepatnya di pangkal tangkai daun
terdapatduri, sehingga orang mengenal sebagai bayam duri. Bentukdaunnya
menyerupai belahan ketupat dan berwarna hijau.Bunganya berbentuk bunga bongkol,
berwarna hijau muda atau kuning.
Kadungan kimia yang terkandung dalam bayam duri antara lain
amarantin, rutin, spinasterol, hentriakontan, tanin, kalium nitrat, kalsium
oksalat, garam fosfat, zat besi, serta vitamin. Ekstrak daun bayam duri
merupakan salah satu agen penginduksi ketahanan sistemik tanaman cabai merah
terhadap serangan Cucumber Mosaik Virus (CMV) dan virus kuning Gemini.
Cara
Pembuatan Pestisida Nabati Dari Bayam duri (Amaranthus spinosus Linn.)
Bahan
dan Alat :
- Daun bayam duri.
- Mortar dan pestel.
- Carborundum (senyawa silikon dan karbon, biasanya dibuat
sebagai bahan amplas) 600 mesh.
- Alkohol 70 %.
- Kapas.
- Aquadestilasi dan botol semprot.
-Larutan penyangga
Larutan stok buffer phosfat pH 7.0 :
1.362 gr KH2PO4 dilarutkan dalam 1000 ml aquadestilasi, 1.781
gr Na2HPO4. 2H2O dilarutkan dalam 1000 ml aquadestilasi Untuk 100 ml buffer
phosfat 0.01 M pH 7.0 campuran 51.0 ml Na2HPO4. 2H2O dengan 49.0 KH2PO4
Cara
Penggunaan :
Inokulasi secara mekanis dengan metode rubbing.
- Cuci tangan menggunakan sabun.
- Daun sebanyak 25 g dicuci bersih dan dihaluskan dengan
menggunakan mortar kemudian ditambah buffer phosfat sebanyak 75 ml. Konsentrasi
ekstrak bayam duri yang digunakan adalah konsentrasi 25 % yang didapatkan dari
hasil perbandingan antara bagian daun dan buffer phosfat 25 (g) : 75 (ml).
- Ekstrak daun disaring menggunakan kain kasa atau muslin.
- Ekstrak daun ditambah dengan carborundum 600 mesh. Untuk
100 ml ekstrak dibutuhkan ± 8 gram carborundum. Carborundum digunakan untuk
melukai permukaan daun sehingga ekstrak terserap ke dalam sel-sel tanaman tanpa
menyebabkan kematian jaringan tanaman.
- Aplikasi ekstrak dapat dilakukan pada semaian tanaman
holtikultura yang telah mempunyai 3-4 daun sejati dengan cara dioleskan pada
permukaan daun bagian tengah dengan menggunakan kapas. Tiga puluh menit setelah
aplikasi, daun dibilas menggunakan air bersih agar kelebihan carborundum yang
ada di permukaan daun terbilas sehingga mengganggu pertumbuhan.
Inokulasi dengan menggunakan kompresor.
Kompresor digunakan apabila jumlah semaian banyak dan tidak
memungkinkan penggunaan metode rubbing. Caranya seperti metode rubbing, tetapi
penggunaan carborundum untuk satu liter ekstrak pada konsentrasi 25 %, carborundum
yang digunakan ± 50 gram. Campuran tersebut dimasukkan ke dalam tabung semprot
kompresor dan diaplikasikan pada semaian cabai yang telah mempunyai 3-4 daun
sejati pada tekanan 21 psi. Daun dibilas dengan menggunakan air bersih 30 menit
setelah aplikasi untuk menghilangkan carborundum.
*Tombol-tombol diatas mengandung iklan. Untuk menuju artikel yang diinginkan silahkan tunggu 5 detik hingga muncul tombol "skip ad" kemudian klik tombolnya, jika tidak muncul tombol "skip ad" harap refresh halaman tersebut (dimohon keikhlasannya demi eksistensi website ini). Iklan-iklan yang muncul bukanlah virus, Apabila terbuka jendela iklan yang baru (POP UP) silahkan tutup halaman tersebut (tekan tombol kembali untuk pengguna android). Jika tombol tidak bisa diklik silahkan refresh halaman ini.
Penggunaan pestisida kimia dalam pengendalian hama saat ini
banyak menimbulkan dampak negatif. Masalah pencemaran lingkungan merupakan
akibat yang jelas terlihat, selain itu penggunaan pestisida kimia di Indonesia
telah memusnahkan 55% jenis hama dan 72% agen pengendali hayati. Pestisida
adalah racun yang dapat mempengaruhi kehidupan organisme bukan sasaran (non
targetorganisms) sehingga penggunaannya harus didasarkan atas pertimbangan
ekologis yang sangat bijaksana (Dewi, 2007).Oleh karena itu diperlukan
pengganti pestisida yang ramah lingkungan, salah satu alternativenya adalah
penggunaan pestisida nabati. Pestisida nabati adalah salah satu pestisida yang
bahan dasarnya berasal dari tumbuhan (Anugeraheni dan Brotodjojo, 2002).
Pestisida Nabati adalah jenis pestisida yang bahan dasarnya
berasal dari tumbuhan yang mempunyai kandungan aktif yang dapat mengendalikan
perkembangan hama. Pestisida nabati sudah dipraktekkan 3 abad yang lalu. Pada
tahun 1690, petani di Perancis telah menggunakan perasaan daun tembakau untuk
mengendalikan hama kepik pada tanaman buah persik. Tahun 1800, bubuk tanaman
Pirethrum digunakan untuk mengendalikan kutu. Penggunaan pestisida nabati
selain dapat mengurangi pencemaran lingkungan, harganya relatif lebih murah
apabila dibandingkan dengan pestisida kimia (Sudarmo,2005).
Menurut Kardinan (2002), karena terbuat dari bahan
alami/nabati maka jenis pestisida ini bersifat mudah terurai di alam jadi
residunya singkat sekali. Pestisida nabati bersifat “pukul dan lari” yaitu
apabila diaplikasikan akan membunuh hama pada waktu itu dan setelah terbunuh
maka residunya cepat menghilang. Jadi berasakan terbebas dari residu sehingga
beras aman untuk dikonsumsi. Sudarmo (2005) menyatakan bahwa pestisida nabati
dapat membunuh atau menganggu serangga hama dan penyakit melalui cara kerja
yang unik yaitu dapat melalui perpaduan berbagai cara atau secara tunggal.
Tumbuhan sendiri sebenarnya kaya akan bahan aktif yang
berfungsi sebagai alat pertahanan alami terhadap pengganggunya. Bahan pestisida
yang berasal dari tumbuhan dijamin aman bagi lingkungan karena cepat terurai di
tanah dan tidak berbahaya terhadap hewan, manusia atau serangga non sasaran
(Istianto, 2009).
Tumbuhan pada dasarnya mengandung banyak bahan kimia yang
merupakan poduksi metabolit sekunder dan digunakan oleh tumbuhan sebagai alat
pertahanan dari serangan OPT. Lebih dari 2.400 jenis tumbuhan yang termasuk
kedalam 235 famili dilaporkan mengandung bahan pestisida. Oleh karena itu, jika
dapat mengolah tumbuhan ini sebagai bahan pestisida maka akan membantu
masyarakat petani untuk menggunakan pengendalian yang ramah lingkungan dengan
memanfaatkan sumber daya setempat yang ada disekitarnya ( Kardinan, 2002). Menurut
Grainge dan Ahmed (1988) lebih dari seribu tanaman berpotensi sebagai
pengendali hama tanaman. Tanaman biofarmaka dan atsiri merupakan tanaman yang
dapat digunakan sebagai pestisida nabati.
Minyak atsiri dari tanaman aromatik diketahui mengandung
senyawa aktif yang dapat digunakan sebagai pestisida. Hal ini berkaitan dengan
sifatnya yang mampu membunuh, mengusir dan menghambat makan hama. Beberapa
minyak atsiri dari tanaman aromatik yang diduga bersifat insektisida antara
lain bawang merah (Allium ascalonicum).
Cara kerja
pestisida nabati sangat spesifik yaitu :
-Merusak perkembangan telur, larva, dan pupa.
-Menghambat pergantian kulit.
-Menganggu komunikasi serangga.
-Menyebabkan serangga menolak makan.
-Menghambat reproduksi serangga betina.
-Mengurangi nafsu makan.
-Memblokir kemampuan makan serangga.
-Mengusir serangga (Repellent).
-Menghambat perkembangan patogen penyakit.
Ditinjau dari hubungan kekerabatannya, bawang merah termasuk
keluarga Liliaceae. Keluarga ini mempunyai ciri berumbi lapis, berakar serabut,
dan bentuk daun silindris.Umbi lapis tersebut berasal dari pangkal daun yang
bersatu dan membentuk batang-batang semua serta berubah bentuk dan fungsinya.
Bawang merah mengandung minyak atsiri yang mudah menguap
saat umbinya dikupas dan dipotong. Minyak atsiri tersebut berada dalam
kandungan air bawang. Dari 100 gram umbi Allium cepa yang diteliti, sekitar 80
persen kandungannya adalah air. Kandungan lainnya yaitu karbohidrat atau zat
pati sebesar 9,2% dan gula 10%, serta selebihnya adalah vitamin dan mineral.
Vitamin yang terkandung dalam bawang merah antara lain, vitamin B1, B2, dan C.
Sementara mineral yang ada dalam bawang merah seperti kalium, zat besi, dan
fosfor. Bawang merah bersifat sebagai insektisida penolak (repellent) yang kaya
dengan kandungan minyak atsiri, sikloaliin, metilaliin, dihidroaliin,
flavonglikosida, saponin, peptida, fitohormon, kuersetin. Bagian tanaman yang
biasa digunakan adalah umbi lapis.
Kulit bawang merah adalah bagian terluar atau pembalut dari
daging bawang merah yang juga berpotensi
dapat membunuh hama serangga pada tanaman, kulit bawang merah mengandung
senyawa acetogenin. Pada konsentrasi tinggi, senyawa tersebut memiliki
keistimewaan sebagai anti-feeden. Dalam hal ini, hama serangga tidak lagi
bergairah dan menurunnya nafsu makan yang mengakibatkan hama serangga enggan
untuk melahap bagian tanaman yang disukainya. Sedangkan dalam konsentrasi
rendah, bersifat racun perut yang bisa mengakibatkan hama serangga menemui
ajalnya. Hama serangga mengonsumsi daun yang mengandung senyawa acetogenin
konsentrasi rendah, akan menyebabkan terganggunya proses pencernaan dan merusak
organ-organ pencernaan, yang
mengakibatkan kematian pada hama serangga (Plantus 2008).
Selain mengandung anti-fedeen, kulit bawang merah juga
mengandung senyawa squamosin. Kandungan pada squamosin mampu menghambat
transport elektron pada sistem respirasi sel hama serangga, yang menyebabkan
hama serangga tidak dapat menerima nutrisi makanan yang dibutuhkan oleh
tubuhnya. Sehingga, walaupun hama serangga memakan daun yang telah tercemar
oleh zat squamosin, hama serangga sama saja seperti tidak memakan apapun,
karena nutrisi yang terkandung dalam daun yang dimakan hama serangga tidak
dapat tersalurkan keseluruh tubuhnya.
Akhirnya, hama serangga akan mati secara perlahan.
Selain berpotensi dapat membunuh hama ulat, kulit bawang
merah juga memiliki beberapa manfaat lainnya yang menguntungkan. Zat dan
senyawa yang terdapat pada kulit bawang merah dapat memberikan kesuburan bagi
tanaman sehingga dapat mempercepat tumbuhnya buah dan bunga pada tumbuhan
(Rizal 2008).
Kulit bawang merah dapat dijadikan sebagai pestisida alami
dengan cara mengambil ekstraknya. Pembuatan ekstrak kulit bawang merah dapat dilakukan
dengan cara perebusan dan perendaman. Warna coklat yang dihasilkan dari ekstrak
kulit bawang merah berasal dari senyawa flangfolikosida, senyawa ini sangat
ampuh dalam membunuh bakteri (Anne Ahira 2010). Hal ini menunjukan, semakin
banyak kulit bawang merah yang digunakan, semakin lama waktu perendaman dan
perebusan. Akan menghasilkan banyak pula senyawa flangfolikosida yang dapat
diekstrak. Sebaliknya, semakin sedikit kulit bawang merah yang digunakan,
semakin singkat waktu perendaman dan perebusan. Maka ekstrak kulit bawang merah
yang diperoleh kurang berwarna coklat dan aroma bawang merah tidak kuat.
Bawang merah diduga berasal dari Asia Tengah, namun tak ada
data yang mendukungnya, dan sudah ditanam di seluruh dunia. Kelompok kultivar
agregatum (shallot) mendominasi dataran rendah tropis Asia Tenggara, namun
kelompok kultivar common onion tumbuh di Filipina, Papua Nugini dan Thailand.
Bawang merah membutuhkan temperatur pada siang hari 20-26 °C
dan panjang hari paling sedikit 13 jam. Di Indonesia, bawang merah tumbuh di
dataran rendah di bawah 450 m dpl, ia lebih menyukai tanah liat alluvial yang
mempunyai drainase bagus.
Pestisida nabati berbahan bawang merah tidak mempunyai
dampak negatif terhadap tumbuhan yang disemprotkan ataupun ekosistem sekitar.
Hasil pengamatan menunjukan, ekstrak kulit bawang merah mampu membuat daun pada
tumbuhan menjadi tampak lebih segar.
*Tombol-tombol diatas mengandung iklan. Untuk menuju artikel yang diinginkan silahkan tunggu 5 detik hingga muncul tombol "skip ad" kemudian klik tombolnya, jika tidak muncul tombol "skip ad" harap refresh halaman tersebut (dimohon keikhlasannya demi eksistensi website ini). Iklan-iklan yang muncul bukanlah virus, Apabila terbuka jendela iklan yang baru (POP UP) silahkan tutup halaman tersebut (tekan tombol kembali untuk pengguna android). Jika tombol tidak bisa diklik silahkan refresh halaman ini.
Akibat penggunaan insektisida kimia sintetis yang berlebihan
maka muncul masalah baru seperti keracunan pada manusia, pencemaran lingkungan,
resistensi, resurjensi, dan terbunuhnya organisme bukan sasaran (Untung, 1993)
dalam (Andi, 2007). Pada sisi ekonomi juga mengalami kerugian seperti di daerah
Bandung 30% dari total biaya produksi adalah penggunaan insektisida (Woodfort
dkk., 1981) dalam (Sastrosiswojo dkk., 2005).
Untuk mengurangi dampak penggunaan insektisida sintetik,
maka diperlukan alternatif pengendalian. Salah satu teknik pengendalian yang
ramah lingkungan adalah penggunaan insektisida botani yang bahan aktifnya
berasal dari tumbuhan. Disisi lain penggunaan insektisida botani diharapkan
mempu mendukung porgram pemerintah untuk pertanian berkelanjutan dengan
dikeluakanya PP No. 6 tahun 1995 (Martono dkk., 2004).
Pengendalian hama dengan menggunakan berbagai bahan alam
mulai dilakukan salah satunya dengan penggunaan babadotan (Ageratum conyzoides
L.) sebagai insektisida botani (Tenrirawe, 2011). Tumbuhan A. conyzoides
memiliki nama umum babadotan, bandotan, jukut bau atau wedusan (goatweed).
Bagian daun mempunyai sifat bioaktivitas sebagai insektisida, antinematoda,
antibakteri dan alelopati (Grainge dan Ahmed, 1988). Penelitian tanaman
insektisida botani hendaknya dilakukan secara komprehensif dan bertahap mulai
dari survai, percobaan skala laboratorium, rumah kaca dan selanjutnya skala
lapangan (Grainge dan Ahmed, 1988).
Pestisida nabati merupakan produk alam terbuat dari tumbuhan
yang mengandung senyawa (metabolit) sekunder yang tidak disukai oleh hama.
Tumbuhan tidak disukai oleh hama karena mengandung metabolit sekunder yang
bersifat menolak (repellent), mengurangi nafsu makan (antifeedant),
mempengaruhi sistem syaraf, mengganggu sistem pernafasan, serta mengganggu
reproduksi dan keseimbangan hormon (antihormonal).
Banyak jenis tumbuhan yang mengandung metabolit sekunder di
sekitar kita, bahkan termasuk tumbuhan yang selama ini dianggap sebagai
tumbuhan pengganggu (gulma). Bagian-bagian tertentu pada tumbuhan tersebut
dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati. Tumbuhan yang mengandung metabolit
sekunder ini dapat diekstrak secara tunggal ataupun dibuat campuran (mix). Insektisida
botani mulai menunjukan keberhasilan secara praktikal di beberapa negara
dilaporkan oleh Secoy dan Smith (1983), Stoll (1986) dan Janet Durno (Anon,
1989). Aplikasi insektisida botani tersebut di Indonesia telah dilaporkan
antara lain oleh (Heyne, 1987). Senyawa biotoksin yang telah diteliti
kebanyakan adalah senyawa metabolit sekunder spesies tanaman dari keluarga
Annonaceae, Asteraceae, Canellaceae, Labiateae, Meliaceae, Piperaceae, Rutaceae
(Jacobson, 1975).
Insektisida
botani yang "baik" harus mampu
memenuhi beberapa kriteria seperti:
- Toksisitas terhadap jasad bukan sasaran nol atau rendah.
-Biotoksin memiliki lebih dari satu cara kerja, daya persistensi
tidak terlalu singkat.
-Ekstrak dari tanaman sumber yang mudah diperbanyak, tahan
terhadap kondisi suboptimal, diutamakan tanaman tahunan, tidak akan jadi gulma
atau inang alternatif OPT (Suryaningsih, 2004).
Selain itu tanaman sumber insektisida nabati sedapat mungkin
tidak berkompetisi dengan tanaman yang dibudidayakan. Insektisida botani
tersebut apabila ditemukan dan penggunaannya praktis untuk petani, maka dampak
negatif aplikasi pestisida sintetik dapat dihindari serta ditambah dengan
manfaat-manfaat lainnya, baik dari aspek ekonomi, sosial maupun ekologi (Suryaningsih,
2004).
Babadotan (Ageratum conyzoides L.) termasuk yang mudah didapat
dan lebih ekonomis karena tumbuh secara liar di sekitar kita. Metabolit
sekunder yang terkandung dalam babadotan adalah saponin, flavanoid, polifenol,
kumarine, eugenol 5%, hidrogen sianida (HCN), dan minyak atsiri. Babadotan
sebagai pestisida nabati dilaporkan khusus untuk serangga hama, bioaktif yang
terkandung didalamnya bersifat menolak dan menghambat perkembangan serangga.
Khusus babadotan, bagian tumbuhan yang diekstrak adalah daun. Kandungan kimia
yang ada dalam tanaman bandotan sangat memungkinkan untuk dijadikan pestisida
nabati yang ramah lingkungan (Grainge dan Ahmed dalamAstriani, 2010).
Nama bandotan atau babadotan itu merujuk pada bau tak sedap
yang dikeluarkan daunnya ketika sudah layu dan membusuk, menyerupai bau
kambing. Sifat bau yang seperti itu, dikutip dari Wikipedia, menyebabkannya
disebut bandotan atau babadotan (Sunda), atau wedusan (Jawa). Babadotan (A.
conyzoides) merupakan gulma yang banyak tumbuh di Indonesia. Babadotan (A.
conyzoides) merupakan tumbuhan berasal dari Amerika tropis dan banyak hidup di
daerah tropis. Persebaran babadotan dimulai dari Amerika Utara hingga
ke-Amerika Tengah meskipun awalnya gulma ini berasal dari Amerika Tengah dan
Karibia.Untuk di Indonesia menemukan gulma ini sangat mudah karena hampir
setiap daerah ada dan gulma ini masih kurang termanfaatkan. Gulma ini mudah
ditemukan di ladang, kebun, pekarangan tepi, jalan atau saluran air pada
ketinggian 1-2.100 m dpl (Dalimartha, 2002). Babadotan termasuk gulma berdaun
lebar batang babadotan berbentuk bulat yang ditumbuhi rambut panjang dan
memiliki cabang. Apabila bagian batang menyentuh tanah maka mengeluarkan akar
dan baru tumbuh (Kardinan, 1999).
Menurut Prof. Dadang, pakar pestisida nabati IPB, penelitian
dan pengembangan pestisida nabati di Indonesia masih sangat terbuka seiring
dengan kebutuhan masyarakat akan produk pertanian yang sehat (bebas residu
pestisida sintetik). Jika tidak dapat menggantikan peran pestisida sintetik sepenuhnya,
paling tidak pestisida nabati dapat berperan mengurangi penggunaan pestisida
sintetik dan menjadi alternatif dalam pengendalian hama di Indonesia.
Babadotan (Ageratum conyzoides L.) memiliki ciri tanaman dengan
tinggi 10-120 cm. Batang tegak ataupun terbaring. Daun babadotan berbentuk
bulat telur dengan daun sebuku dengan pangkal membulat dan baggian bagian tepi
ujung runcing, tepi, bergerigi. Panjang daun babadotan 5-13 cm dan lebar 0,5-6
cm. Kedua permukaan daun ditumbuhi bulu atau rambut (trichome) (Dalimartha,
2002). Daun-daun bertangkai, terletak berseling atau berhadapan, terutama yang
letaknya di bagian bawah. Pertulangan menyirip, tangkai pendek dan berwarna
hijau. Bunga majemuk dan berada di ketiak daun, bongkol menyatu menjadi karangan,
bentuk malai rata, panjang 6-8 mm, tangkai berambut, kelopak berbulu hijau,
mahkota bentuk lonceng putih atau ungu. Buah seperti padi bulat panjang bersegi
lima, gundul atau berambut jarang dengan warna hitam. Pada buah kering akan
membentuk struktur sayap sehingga mudah diterbangkan angin (Kardinan, 1999).
Biji babadotan berbentuk ramping dan kecil memiliki panjang 1,5-2 mm berwarna
hitam. Bersifat fotoblastik positif dengan viabilitas mencapai 12 bulan dengan
temperatur optimum 20-25oC (Ming, 1999) dalam (Darmayanti, 2006). Akar tunggang,
bunga berwarna putih kotor.
Babadotan (Ageratum conyzoides L.) tumbuh mulai dari 1
sampai 2100 m dpl dan dapat tumbuh di sawah-sawah, ladang, semak belukar,
halaman kebun, tepi jalan, tanggul, dan tepi air. Tanaman babadotan mengandung
saponin, flavanoid , polifenol, kumarine, eugenol 5%, HCN dan minyak atsiri. Bahan
aktif pada insektisida botani tersebut mampu menyebabkan gangguan aktivitas
makan dengan mengurangi nafsu makan, memblokir kemampuan makan serangga
sehingga hama menolak makan (Astriani, 2010). Bahan aktif babadotan juga mampu
mengganggu peletakan telur, merusak perkembangan telur, serta mampu menghambat
reproduksi serangga betina. Kandungan bahan aktifnya terutama saponin mampu
memberikan daya repelensi lebih besar dan mampu menghambat pertumbuhan larva
menjadi pupa (Samsudin, 2008 ; Grainge and Ahmed, 1988).
Beberapa penelitian juga telah menunjukan bahwa babadotan
memiliki pengaruh terhadap perkembangan dan mortalitas mahluk hidup. Pada ulat
grayak (Spodoptera litura F) telah menunjukkan respon yaitu kecacatan
pembentukan pupa dan imago pada konsentrasi ekstrak daun babadotan 5%
(Christiyanto, 2013). Bahan aktif babadotan juga mampu mengganggu peletakan
telur, merusak perkembangan telur, serta mampu menghambat reproduksi serangga
betina. Kandungan bahan aktifnya terutama saponin mampu memberikan daya
repelensi lebih besar dan mampu menghambat pertumbuhan larva menjadi pupa
(Grainge and Ahmed, 1988). Sebuah penelitian juga menunjukkan hasil bahwa insektisida
botani babadotan mampu dengan baik menekan perkembangan populasi hama Plutella
xylostella dan semakin tinggi konsentrasi maka semakin tinggi tingkat daya
bunuhnya (Darmayanti, 2006).
Berikut
ini merupakan bahan aktif kimia yang ditemukan didalam ekstrak babadotan.
Alkaloid
Alkaloid merupakan senyawa yang di dalam tumbuhan menjadi
garam berbagai senyawa organik. Alkaloid dapat melindungi tumbuhan dari
serangan parasit atau pemangsa tumbuhan. Di dalam alkaloid terdapat senyawa
toksik yang mampu membunuh serangga dan fungi.
Kumarin
Kumarin merupakan senyawa yang dapat mempengaruh proses
metabolisme pada hewan. Kumarin menghasilkan efek toksik terhadap
mikroorganisme sehingga mampu membunuh serangga (Robinson, 1999 dalam
Darmayanti, 2006).
Tanin
Tanin dapat bereaksi dengan protein dan menimbulkan masalah
pada aktivitas enzim sehingga semakin tinggi tanin dapat membantu mengusir
hewan (Robinson, 1999 dalam Darmayanti, 2006).
Saponin
Saponin yang termasuk senyawa glikosida memiliki sifat khas
apabila diaduk/kocok menghasilkan busa. Saponin dapat merusak saraf hama dan
mengakibatkan nafsu makan berkurang dan akhirnya hama mati (Marfuah, 2005 dalam
Darmayanti, 2006).
Minyak
Atsiri
Minyak atsiri merupakan bahan terpenoid yang mudah menguap
dan menghasilkan bau sesuai tanamanya aslinya. Senyawa ini mampu menghambat
tumbuhan lain dan membunuh hama dengan toksik yang tinggi (Robinson, 1999 dalam
Darmayanti, 2006).
Flavonoid
Flavonoid termasuk golongan fenol terbesar yang memiliki
sifat khusus berupa bau yang tajam. Flavonoid sebagai bahan antimikrob, antivirus
dan pembunuh serangga dengan mengganggu/menghambat pernapasan.
Cara
membuat pestisida dari tanaman Babadotan (Ageratum conyzoides L.):
Bahan
dan Alat
½ kg daun babadotan.
1 liter air.
1 gram deterjen/Sabun.
Cara
Pembuatan
-Daun babadotan dirajang.
-Hasil rajangan kemudian direndam dalam 1 liter air dan
dibiarkan selama 24 jam.
-Hasil rendaman kemudian disaring.
- Tambahkan deterjen, aduk hingga rata.
Cara
Penggunaan
cara aplikasi dapat dilakukan dengan penyemprotkan keseluruh
bagian tanaman yang terserang hama pada pagi dan sore hari.
*Tombol-tombol diatas mengandung iklan. Untuk menuju artikel yang diinginkan silahkan tunggu 5 detik hingga muncul tombol "skip ad" kemudian klik tombolnya, jika tidak muncul tombol "skip ad" harap refresh halaman tersebut (dimohon keikhlasannya demi eksistensi website ini). Iklan-iklan yang muncul bukanlah virus, Apabila terbuka jendela iklan yang baru (POP UP) silahkan tutup halaman tersebut (tekan tombol kembali untuk pengguna android). Jika tombol tidak bisa diklik silahkan refresh halaman ini.
Hama Ulat Grayak Sebagai Organisme Pengganggu
Tanaman
Ulat Grayak ( Spodoptera litura
) merupakan salah satu hama yang
menyerang hampir semua tanaman :
Tebu, Jeruk, Padi, Jagung, Bawang, Cabai, Tomat, Kubis, Buncis, Tembakau,
Kapas, Terung, Kentang, Kedelai, Kacang tanah, Kangkung, Bayam, Pisang dan
Sayuran lainnya. Ulat ini yang tidak berbulu biasa disebut oleh petani sebagai
ulat tentara yang umumnya melakukan serangan terhadap tanaman pada malam hari,
sedangkan pada siang hari ulat ini bersembunyi dibawah tanaman, mulsa atau
dalam tanah. Pada umumnya, ulat grayak menyerang satu tanaman secara
bersama-sama sampai seluruh daun tanaman tersebut habis, baru kemudian ke
tanaman lain. Ulat ini berumur 20 hari selama hidupnya menyerang tanaman. Hama
ini bersifat polifag (mempunyai kisaran inang yang cukup luas). Jika daun suatu
tanaman rusak, maka tanaman tidak dapat fotosintesis dan tidak dapat
meningkatkan produktivitas tanaman tersebut. Ulat grayak juga menyerang
berbagai gulma, seperti Limnocharis sp., Passiflora foetida, geratum sp., Cleome sp., Clibadium sp., dan
Trema sp.
Hama ulat grayak menyerang daun
dan juga buah – buahan holtikultura. Serangannya ditandai dengan daun-daun yang
terlihat berwarna agak putih, karena yang tertinggal hanya selaput daun bagian
atas. Bagian daging daun sebelah bawah telah dimakan oleh ulat ini. Pada
serangan awal terlihat daun berlubang-lubang, dan kemudian jika dibiarkan
akhirnya hanya tertinggal tulang-tulang daun. Hama ini menyerang secara bergerombol karenanya disebut ulat
tentara. Hama ini tersebar di Asia, Pasifik dan Australia sedangkan di
Indonesia propinsi yang melaporkan adanya serangan hama ini adalah DI Aceh,
Jambi, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Bali, Nusa
Tenggara Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku dan Irian Jaya. Ulat
grayak tersebar pada hampir seluruh propinsi di Indonesia, hampir seluruh
kabupaten di Jawa Timur, dan hampir seluruh kabupaten di Lampung (Ditlintan-ATA
1989; Tengkano et a l. 1991; Tengkano et a l. 2003).
Serangan berat, biasanya
terjadi saat musim kemarau, ketika ulat yang masih kecil sangat aktif
makan yang mengakibatkan bagian daun
tanaman yang tersisa tinggal epidermis bagian atas dan tulang daunnya saja,
kemudian jika ulat sudah besar akan memakan semua tulang daun sehingga
menyebabkan tanaman menjadi gundul.
Serangan parah hama ulat grayak
juga menyerang tanaman jagung petani di Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Jawa
Timur, dan diprediksi menurunkan produksi jagung petani hingga 20 persen. "Kalau
yang diserang hama, pertumbuhan jagungnya tidak bisa bagus, bahkan bisa
puso," kata Petugas Organisme Penganggu Tanaman (POPT) Kecamatan Gurah,
Yusuf Tri Wahyono mengungkapkan. Tingginya serangan ulat pada tanaman jagung
petani ini karena perubahan cuaca yang tidak menentu. Kupu-kupu penyebar hama
dengan mudahnya meletakkan telur pada daun-daun jagung dan tumbuh.
Wabah ulat grayak juga meresahkan
petani bawang merah di Probolinggo, Jawa Timur. Serangan ulat ini tergolong
cepat dan sporadis. Hanya dalam beberapa saat, tanaman yang diserang langsung
layu. Daun bawang lantas menguning dan mati.Tidak hanya merusak daun, serangan
ulat juga merusak biji (buah) bawang sehingga tidak laku dijual. "Sudah
hampir sepekan ini ulat muncul. Serangannya begitu cepat. Malam diserang,
paginya sudah layu dan kuning. Padahal tinggal dua pekan lagi panen," kata
Manen (4/7/2018), salah seorang pemilik lahan. "Rugi besar kalau sudah
terserang ulat seperti ini. Bila dikalkulasi ruginya bisa Rp100 juta per
hectare,” tambahnya.
Ulat grayak juga pernah menyerang
ribuan hektar tanaman padi di Kabupaten Pandeglang, Banten. Daun padi yang terserang
hama akan berwarna putih dan kemudian mengering. Bila tidak segera diatasi,
ulat grayak yang memakan daun tanaman padi dengan cepat akan menyerang batang
dan akar. Sedangkan di Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, hama ulat grayak juga
menyerang sedikitnya 350 hektare tanaman cabai milik petani setempat.
Stadium yang membahayakan dari
Ulat grayak ( Spodoptera litura ) ini adalah stadium larva (ulat) karena
menyerang secara bersama-sama dalam jumlah yang sangat besar dan sangat aktif dalam
mencari makan untuk menunjang metamorfosisnya. Ulat/larva menjadi pupa kemudian
berubah menjadi Imago atau gengat atau kupu - kupu.
Serangga dewasa jenis
Spodoptera litura betina disebut sebagai Imago atau ngengat atau kupu-kupu dapat
bertelur 2.000 – 3.000 butir dalam bentuk
kelompok-kelompok, tersusun atas ±11 kelompok dengan rata-rata 25 -200 butir
per kelompok. Telur Spodoptera litura berbentuk hampir bulat dengan bagian
dasar melekat pada daun (kadang- kadang tersusun dua lapis), berwarna coklat
kekuningan. telur – telur tersebut diletakkan pada daun, bentuk telurpun bervariasi.
Dan kelompok telur tersebut tertutup bulu seperti beludru yang berasal dari
bulu- bulu tubuh bagian ujung ngengat betina, 3 hari kemudian telur menetas
menjadi ulat/larva dan tinggal untuk sementara waktu di tempat telur diletakkan.
Beberapa hari kemudian ulat tersebut mulai berpencaran.
Larva memiliki 5 instar dengan
ukuran instar 1 panjang 1,0 mm dan instar 5 panjang 40 – 50 mm dan setelah 20 –
26 hari berwarna coklat sampai coklat kehitaman dengan bercak-bercak kuning dan
berumur 20 - 26 hari. Sepanjang badan pada kedua sisinya masing-masing terdapat
2 garis coklat muda. Ciri khas ulat grayak ini adalah terdapat bintik-bintik
segitiga berwarna hitam dan bergaris-garis kekuningan pada sisinya. Sedangkan
ulat dewasa berwarna abu-abu gelap atau cokelat. Warna dan perilaku ulat instar
terakhir mirip ulat tanah, namun terdapat perbedaan yang cukup mencolok, yaitu
pada ulat grayak terdapat tanda bulan sabit berwarna hijau gelap dengan garis
punggung gelap memanjang. Larva kemudian berubah menjadi pupa (kepompong) yang
dibentuk di bawah permukaan tanah membentuk pupa tanpa rumah pupa (kokon),
berwarna coklat kemerahan dengan panjang sekitar 1,60 cm. Daur hidup dari telur
menjadi kupu-kupu berkisar antara 30 – 61 hari dan umumnya aktif pada malam
hari, sementara pada siang hari serangga dewasa/Imago/Ngengat/Kupu – kupu ini
diam ditempat yang gelap dan bersembunyi. Kemampuan terbang ngengat pada malam
hari mencapai 5 km. Ngengat memiliki sayap bagian depan berwarna coklat atau
keperakan, dan sayap belakang berwarna keputihan dengan bercak hitam.
Berdasarkan siklus hidup ulat
grayak, maka perlu kita ketahui bahwa semua ini bermula dari Imago/gengat yang
menghasilkan telur pada daun dan kemudian telur tersebut menetas menjadi
ulat/larva dan menjadi hama yang sangat aktif
memakan tanaman terutama pada malam hari. Periode ini hanya berlaku selama
20-26 hari. Dan kemudian hama ini beristrahat membentuk pupa/kepompong yang
siap untuk menjadi Imago/gengat baru yang siap menghasilkan telur baru dan
kemudian menjadi hama baru dalam waktu pendek 30 – 61 hari.
Dari pemahaman tentang siklus hidup hama ini, maka untuk
mengendalikan dapat dilakukan dengan cara:
-Pengendalian secara kultur teknis dilakukan dengan cara menjaga kebersihan kebun dari gulma
dan sisa-sisa tanaman yang menjadi tempat persembunyia hama, serta melakukan
rotasi tanaman. Pembersihan gulma dilakukan dengan tujuan supaya tidak menjadi
tempat berkembang biak dan berembunyi ngengat dan ulat.
-Kendalikan Imago/gengat/kupu - kupu
sehingga tidak menghasilkan telur. Jika cara ini sukses, maka tidak akan
ada telur dan tidak akan ada Ulat/Larva.
-Pengendalian telur, Jika
pada areal tanaman sudah terlanjur ditemukan banyak telur maka gunakan pestisida
yang mampu membuat telur-telur tersebut mati dan tidak menetas.
Pengendalian telur juga dapat dilakukan
secara mekanis, yaitu mengumpulkan telur dan ulat-ulatnya kemudian langsung
membunuhnya. Dapat pula dilakukan dengan pemangkasan daun yang telah menjadi
sarang telur ngengat dan membakarnya.
-Mengendalikan Larva, jika
terlanjur banyak larva ditemukan karena telur sudah menetas, maka kendalikan
larva tersebut dengan pestisida yang tepat, penyemprotan akan efektif dilakukan
pada waktu malam hari sesudah matahari terbenam atau pagi hari sebelum matahari
terbit. Jika penyemprotan dilakukan pada pagi hari, maka diarahkan ke tanah
tempat ulat bersembunyi.
Pembuatan perangkap ulat grayak
dapat dilakukan dengan cara pembuatan parit sepanjang sisi kebun dengan lebar
60 cm dan dalam 45 cm. Ulat grayak yang masuk ke dalam parit dimatikan dengan
menggulung kayu bulat yang digerakkan maju mundur di atas ulat grayak. Cara
lain adalah paritnya diisi dengan jerami atau bahan lainnya yang mudah
terbakar, lalu dibakar hingga ulat grayak mati.
Pengolahan tanah dengan cara yang
baik dapat membunuh kepompong ulat grayak yang bersembunyi di dalam tanah.
Teknologi lampu perangkap bisa
menjadi langkah alternatif yang ampuh mengurangi populasi ulat grayak. Caranya,
lampu perangkap dinyalakan pada malam hari, kemudian ulat-ulat grayak akan
mendekat dan jatuh ke dalam wadah yang berisi air yang berada di bawah lampu.
Anda juga dapat menyemprotkan Bacillus
thuringienis atau Borrelinavirus litura sebagai agen hayati untuk mengendalikan
Ulat grayak.
-Pengendalian secara kimiawi, dapat dilakukan dengan cara pemasangan sex pheromone, yaitu
perangkap ngengat (kupu-kupu) jantan. Sex pheromone merupakan aroma yag
dikeluarkan oleh serangga betina dewasa yang dapat menimbulkan rangsangan
seksual (birahi) pada serangga jantan dewasa untuk menghmapiri dan melakukan
perkawinan sehingga membuahkan keturunan. Sex pheromone ini sangat efektif
untuk dijadikan perangkap kupu-kupu dewasa dari ulat grayak (S. litura). Cara
pemasangan Sex pheromone ini adalah dimasukkan ke dalam botol bekas Aqua yang
diberi lubang kecil untuk tempat masuknya ngengat jantan. Perangkap ini akan
diisi air sabun untuk mencegah serangga jantan bisa terbang lagi. Satu hektar
kebun cukup dipasang 5 buah hingga 10 buh Sex pheromone dengan cara
digantungkan sedikit lebih tinggi di atas tanaman holtikultura. Daya tahan
(efektivitas) Sex pheromone ini ±tiga minggu dan tiap malam bekerja efektif
sebagai perangkap ngengat jantan. Keuntungan penggunaan metode ini, antara
lain, adalah aman bagi manusia dan ternak, tidak berdampak negatif tehadap
lingkungan, dapat menekan penggunaan insektisida yang dapat menimbulkan
kekebalan pada hama, dan dapat memperlambat perkembangan hama tersebut. Dalam
semalam, perangkap feromon mampu menangkap hingga 400 lebih serangga jantan.
Pertumbuhan populasi ulat grayak (Spodoptera litura) sering
dipicu oleh situasi dan kondisi lingkungan, yakni:
Cuaca panas
Pada kondisi kering dan suhu
tinggi, metabolisme serangga hama meningkat sehingga memperpendek siklus hidup.
Akibatnya jumlah telur yang dihasilkan meningkat dan akhirnya mendorong
peningkatan populasi.
Penanaman tidak serentak dalam satu areal yang luas
Penanaman tanaman seperti
kedelai yang tidak serentak menyebabkan tanaman berada pada fase pertumbuh- an
yang berbeda-beda sehingga makanan ulat grayak selalu tersedia di lapangan.
Akibatnya, pertumbuhan populasi hama makin meningkat kare- na makanan tersedia
sepanjang musim.
Aplikasi insektisida
Penggunaan insektisida yang
kurang tepat baik jenis maupun dosisnya, dapat mematikan musuh alami dari ulat
grayak (Spodoptera litura).
*Tombol-tombol diatas mengandung iklan. Untuk menuju artikel yang diinginkan silahkan tunggu 5 detik hingga muncul tombol "skip ad" kemudian klik tombolnya, jika tidak muncul tombol "skip ad" harap refresh halaman tersebut (dimohon keikhlasannya demi eksistensi website ini). Iklan-iklan yang muncul bukanlah virus, Apabila terbuka jendela iklan yang baru (POP UP) silahkan tutup halaman tersebut (tekan tombol kembali untuk pengguna android). Jika tombol tidak bisa diklik silahkan refresh halaman ini.
Indonesia merupakan salah satu negara pembudidaya tanaman
kakao dan termasuk negara penghasil kakao terbesar ketiga setelah Ivory-Coast
dan Ghana, yang nilai produksinya mencapai 1.315.800 ton/tahun. Usaha budidaya
tanaman kakao memiliki prospek yang cukup baik karena kebutuhan biji kakao baik
dalam dan luar negeri yang terus bertambah dan belum bisa terpenuhi serta harga
jual yang cenderung tinggi pada setahun terakhir (Republika, 2014). Salah satu
permasalahan yang terdapat pada usaha budidaya tanaman ini adalah serangan hama
dan penyakit. Hama dan penyakit tanaman kakao ini dapat mengakibatkan turunnya
hasil panen atau bahkan kematian pada tanaman. Mengingat skala usaha budidaya
tanaman ini masih kecil dan sederhana jika serangan hama dan penyakit tidak
cepat dikendalikan. Hal ini akan memperparah akibat serangan hama dan penyakit
pada tanaman kakao.
Organisme pengganggu tanaman yang menyebabkan penurunan
hasil produksi perkebunan kakao adalah serangga. Hama yang banyak ditemukan
pada tanaman kakao, diantaranya hama penggerek buah kakao (Conopomopha
cramerella) dan kepik pengisap buah (Helopeltis spp.). Hama ini merupakan hama
utama pada tanaman kakao (Siswanto dan Karmawati, 2012). Salah satu spesies
Helopeltis spp yang berperan dalam penurunan hasil produksi pada perkebunan
kakao adalah Helopeltis theivora.
Secara alami serangga hama akan
mampu memilih sumber makanan yang disenangi. Serangga akan mempunyai suatu
kecenderungan tertentu dalam mengakses sumber makanannya. Perbedaan dalam hal
tekstur dan struktur, jenis varietas dan komposisi kimia yang terkandung dalam
suatu bahan akan berpengaruh besar pada sifat prefensi tersebut (Yasin, 2009). Hampir
50% dari serangga adalah pemakan tumbuhan (fitofagus), selebihnya pemakan
serangga lain atau sisa-sisa tumbuhan dan
binatang (Sodiq, 2009).
Helopeltis theivora termasuk ke dalam ordo Hemiptera, sub
ordo Cimicomorpha, famili Miridae, genus Helopeltis (Borror, 1992). Helopeltis
theivora merupakan salah satu hama utama kakao yang banyak dijumpai hampir
di seluruh provinsi di Indonesia. Jenis
Helopeltis yang menyerang tanaman kakao diketahui lebih dari satu spesies,
yaitu H. antonii, H. theivora dan H. Claviver (Karmawati dkk., 2010). Selain
menyerang buah, serangga ini juga menyerang pucuk tanaman kakao dengan cara
menghisap cairan bagian tanaman tersebut. Serangan pada buah tua tidak terlalu
merugikan, sedangkan serangan pada buah muda dan pucuk dapat menyebabkan
kematian pucuk dan buah muda tersebut.
Tanaman selain kakao yang sering dijadikan inang oleh kepik
pengisap buah di antaranya adalah Teh (Camellia sinensis), Kina (Cinchona sp.),
Kapuk (Ceiba petandra), Kayu manis (Cinnamomum burmanni), Rambutan (Nephellium
lappaceum), Tephrosia spp dan Jambu Mete (Anacardium occidentale).
Telur helopeltis diletakkan di dalam jaringan tanaman , telur
berwarna putih berbentuk lonjong, diletakkan pada tangkai buah, jaringan kulit
buah, tangkai daun, buah atau ranting. Tetapi pada umumnya telur Helopeltis diletakkan
pada buah. Telur diletakkan dengan alat
peletak telurnya (ovipositor) ke dalam jaringan tanaman sedalam kira-kira 2-3
m. Pada setiap tempat terdapat 2-3 telur . Tempat-tempat telur diletakkan
berbekas noda coklat tua ,dan selain itu juga
di tandai dengan keluarnya sepasang benang halus berwarna putih yang
muncul dari setiap ujung telur. Masa inkubasi telur rata-rata 6,4 (6-7) hari. Perkembangan
dari telur hingga menjadi dewasa 21-27 hari.
Helopeltis muda ( nimfa ) dan dewasa ( imago ) menyerang
kakao dengan cara menusuk dan menghisap cairan sel. Akibatnya timbul
bercak-bercak cekung berwarna cokelat-kehitaman ( nekrosis ). Serangan pada
buah muda dapat menimbulkan kematian, atau berkembang tetapi permukaan kulitnya
menjadi retak dan bentuknya tidak
normal, sehingga menghambat pembentukan biji. Serangan pada ranting dan pucuk
menyebabkan layu dan mati ( die back ).
Setelah menetas, nimfa segera menghisap cairan tanaman pada
bagian tanaman yang masih lunak , misalnya buah, ujung ranting muda, dan
tunas-tunas muda. Pada nimfa muda tidak diketemukan ciri khusus, hanya dijumpai
beberapa tonjolan yang tumbuh tegak lurus pada punggungnya. Ujung tonjolan
tersebut membengkak seperti gada. selain dicirikan oleh tonjolan, gerakan nimfa
lamban dan tidak memiliki sayap serta jarang meninggalkan buah tempat mereka
makan. Rata-rata stadium nimfa berlangsung
11,7 (11-13) hari. Nimfa mengalami lima kali pergantian kulit. Nimfa
kurang menyukai cahaya matahari langsung. Untuk itu mereka cenderung
bersembunyi di bagian-bagian buah dan tunas yang terlindung dan gelap.
Serangga muda (nimfa) dan imago Helopeltis spp. dapat
menimbulkan kerusakan terhadap tanaman kakao dengan cara menusukkan alat
mulutnya (stylet) ke dalam jaringan tanaman untuk mengisap cairan sel-sel di
dalamnya. Bersamaan dengan tusukan stylet itu, Helopeltis spp. akan
mengeluarkan cairan yang bersifat racun dari dalam mulutnya yang dapat
mematikan jaringan disekitar tusukan.
Akibatnya, timbul bercak-bercak cekung berwarna coklat kehitaman.
Pada Helopeltis dewasa ditandai dengan keluaranya sayap, dan
sebuah tonjolan tumpul yang tumbuh tegak lurus pada pungunggnya. Seluruh
tubuhnya berwarna hitam, hanya pada bagian abdomen (ekor) belakang di sebelah bawah
yang terdapat warna putih. Serangga ini terbang seperti nyamuk . Serangga
jantan lebih ramping sedangkan yang betina dicirikan oleh abdomen yang gemuk .
Lama hidup serangga betina rata-rata 17,6
(11-28) hari, sedangkan serangga jantan rata-rata 22,1 (11-40) hari.
Seekor Helopeltis betina dapat menghasilkan telur rata-rata 121,9 (67-229)
butir.
Serangan pada buah muda dapat menyebabkan buah mati. Bercak pada buah yang terserang berat akan
menyatu, sehingga jika buah dapat berkembang terus, permukaan kult buah menjadi
retak dan terjadi perubahan bentuk (malformasi) yang dapat menghambat
perkembangan biji di dalam buah. Serangan Helopeltis spp. pada pucuk/ranting
menyebabkan bercak-bercak cekung di tunas ranting. Bercak mula-mula bulat dan berwarna coklat
kehitaman, kemudian memanjang seiring pertumbuhan tunas itu sendiri. Akibatnya,
ranting tanaman akan layu, kering dan mati.
Pada serangan berat, daun-daun gugur dan ranting meranggas.
Serangan Helopaltis spp. Dapat menurunkan produksi 36% pada tahun yang sama
sejak penyerangan, sedangkan pada tahun berikutnya dapat mencapai 61-75% .
serangan yang berulang setiap tahun dapat menimbulkan kerugian sangat besar,
karena tanaman tidak sempat tumbuh normal.
Kepik berkembangbiak ketika
banyak makanan. Saat makanan langka, mereka bersembunyi pada inang sementara
yang berupa gulma di sekitar lahan. Begitu bibit ditanam, kepik akan langsung
menyerbu. Tanaman yang diserang oleh kepik ini akan menunjukkan gejala daun dan
tunas mengkeriting, kering, dan layu. Buah dan polong muda rusak kemudian
rontok. Runas mendadak mengeriting dan layu. Pentil buah mengkriput dan tidak
berkembang sempurna atau bentuknya menjadi tidak beraturan. Jika diamati terdapat
lubang bekas tusukan pada pangkal. Racun yang dikeluarkan oleh kelenjar ludah
kepik akan membuat bagian yang terkena mati atau rusak. Menurut
Jumar (2000) makanan merupakan sumber gizi yang diperlukan oleh serangga untuk
hidup dan berkembang, jika makanan tersedia dalam kualitas yang cocok dan
kuantitas yang cukup, maka populasi serangga akan naik dengan cepat. Sebaliknya,
jika keadaan makanan berkurang maka populasi serangga juga akan menurun.
Menurut Susniahti dkk., (2005) Perkembangan Helopeltis
banyak dipengaruhi oleh keadaan iklim dan ketersediaan makanan. Pada umumnya
keadaan cuaca yang panas dengan kelembaban relatif sekitar 70%-80% cocok bagi
perkembangan Helopeltis theivora sehingga populasinya bertambah banyak.
Serangan hama ini banyak terjadi pada musim penghujan dan berkurang pada musim
kemarau.
Populasi dan serangan hama penghisap buah kakao umumnya meningkat
saat musim hujan karena pada musim hujan intensitas penyinaran matahari semakin
kecil, kelembaban udara semakin tinggi, dan kecepatan angin semakin rendah.
Kondisi seperti ini sangat cocok untuk pertumbuhan dan perkembangan Helopeltis
spp. Fluktuasi populasi Helopeltis theivora sangat dipengaruhi oleh sumber
makanan dan curah hujan, dimana terdapat korelasi positif antara keduanya (Rita
dan Fee, 1992).
Helopeltis spp. merupakan hama pengisap buah kakao yang menyerang
tanaman dengan cara menusuk dan menghisap cairan buah muda sehingga menyebabkan
matinya buah tersebut. Serangan pada buah berumur sedang mengakibatkan
terbentuknya buah abnormal. Akibat serangan hama ini daya hasil dan mutu kakao
menurun. Serangan berat Helopeltis spp.dalam satu musim dapat menurunkan daya
hasil rata-rata 42% selama tiga tahun berturut-turut. Selain menyerang buah
Helopeltis spp. juga menyerang tunas-tunas muda atau pucuk. Serangan berat dan
berulang-ulang pada pucuk dapat menekan produksi kakao sekitar 36-75%.
Pengendalian Helopeltis spp pada zaman dahulu adalah dengan
cara menangkap secara manual. Biasanya dilakukan oleh anak-anak dan dibayar
menurut berapa banyaknya serangga yang ditangkap. Selain itu dengan cara
menyuluh, dengan memakai bambu panjang yang ujungnya dilengkapi dengan kaleng
yang berisi sehelai kain yang direndam dengan minyak tanah. Alat ini
diayun-ayunkan pada buah-buah dan kadang-kadang juga pada cabang dan ranting.
Apabila terdapat banyak Helopeltis di tempat-tempat tersebut binatang akan mati
karenanya. Namun kedua cara tersebut kurang efektif. Selain itu Anda juga dapat
melakukan metode penyelubungan buah. Penyelubungan buah dengan kantong plastik
dapat dilakukan pada buah yang berukuran 8-12 cm dan salah satu ujung lainnya dibiarkan
terbuka (Atmadja, 2012).
Pemberian pupuk secara tepat dan teratur dapat mengendalikan
Helopeltis spp. karena akan meningkatkan pertumbuhan serta ketahanan tanaman.
Lakukan pemupukan sesuai dosis dan jangan melakukan pemberian pupuk yang
berlebihan.Pemberian unsur hara yang tidak seimbang juga akan mempengaruhi
kondisi tanaman. Pemupukan N yang berlebihan mengakibatkan jaringan tanaman
menjadi lunak dan mengandung asam amino yang tinggi sehingga disenangi oleh
Helopeltis spp. Tanaman yang memperoleh unsur P dalam jumlah cukup lebih tahan
terhadap serangan hama dan penyakit karena unsur P akan mempertinggi daya
regenerasi tanaman dari kerusakan. Unsur K berperan penting pada proses
asimilasi dan bertindak sebagai katalisator. Fungsi lain dari unsur K yaitu
untuk memperkuat jaringan tanaman (Atmadja, 2012).
Pada tanaman kakao, Melakukan pemangkasan pada tanaman kakao
dapat dilakukan dengan cara membuang tunas air (wiwilan) yang tumbuh di sekitar
perempatan dan cabang-cabang utama, karena tunas air akan mengganggu
pertumbuhan tanaman dan akan menjadi pesaing dalam pengambilan zat hara dan
air. Serangga Helopeltis spp. meletakkan telurnya pada jaringan tanaman yang
lunak termasuk tunas air, maka pembuangan tunas secara teratur setiap 2 minggu,
akan mengurangi populasi Helopeltis spp.
Anda juga dapat melakukan penanggulangan
hama kepik dengan membersihkan gulma di sekitar tanaman utama. Serta melakukan
sanisati lahan sebelum penanaman. Anda disarankan pula untuk melakukan tanam
secara serentak dan pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang. Tanam
serempak dalam satu wilayah administratif untuk menghindari terjadinya populasi
tinggi.
Penggunaan predator kepik juga
dapat Anda lakukan, Semut rangrang (Oecophylla smaragdina), semut-
semut ini merupakan predator dari Helopeltis theivora, adanya semut ini dapat
mengurangi perkembangan Helopeltis theivora yang ada pada tanaman kakao.
Menurut Siswanto dan Karmawati (2012) Semut hitam (Dolichoderus thoracicus)
atau semut rangrang (Oecophylla smaragdina) merupakan predator dari Helopeltis
theivora. Semut Hitam (Dolichoderus thoracicus) merupakan salah satu musuh
alami yang dapat digunakan untuk mengendalikan Helopeltis spp. Jenis semut hitam ini merupakan bagian dari
agroekosistem perkebunan kakao di Indonesia
yang sudah dikenal sejak lebih dari 80 tahun yang lalu sebagai musuh
alami Helopeltis spp., D. thoracicus selalu hidup bersama atau bersimbiosis
dengan kutu putih (Planococcus spp.) karena sekresi yang dikeluarkan oleh kutu
putih tersebut rasanya manis sehingga sangat disukai semut hitam, sedangkan
semut hitam secara sengaja atau tidak sengaja turut membantu menyebarkan nimfa
kutu putih. Aktivitas semut hitam yang selalu berada dipermukaan buah
menyebabkan Helopeltis spp. tidak sempat menusukkan stiletnya atau bertelur di
atas buah kakao sehingga buah pun terbebas dari serangan Helopeltis spp. Wiryadiputra
(2007) mengatakan, metode pemapanan semut hitam menggunakan sarang daun kelapa
yang dikombinasi dengan inokulasi kutu putih menggunakan sayatan kulit buah
kakao yang mengandung kutu putih dan perlakuan kutu putih yang diletakkan dalam
kantong daun kakao adalah yang paling baik dan paling cepat untuk pengembangan
semut dan kutu putih. Keefektifan predator dalam mengendalikan Helopeltis spp.
membutuhkan waktu sekitar dua tahun. Peran predator dalam mengendalikan
Helopeltis spp. telah diteliti di beberapa negara. Di Malaysia. Jenis semut
yang dominan adalah Dolichoderus thoracicus (Khoo dan Ho 1992), di Australia
jenis semut rangrang yang dominan adalah Oecophyla smaragdina. Di India, selain
jenis semut, musuh alami yang banyak ditemukan di lapang adalah parasitoid
Telenomus sp. dan Chaetricha (Sundararaju 1992). Wijngaarden (2005) menyatakan
bahwa Persentase kerusakan buah akibat serangan Helopeltis spp. dengan
keberadaan semut yang melimpah di pohon kakao secara signifikan lebih rendah
dibandingkan dengan pohon-pohon tanpa semut Oecophylla longinoda. jumlah buah yang
rusak adalah sekitar 50 % lebih rendah dibandingkan dengan pohon tanpa semut O.
longinoda. Menurut Nanopriatno (1978), semut hitam jenis
Dolichoderus bituberculatus mempunyai kemampuan untuk mengusir Helopeltis spp.
dari tanaman kakao. Predator tersebut pernah diteliti pada tahun 1904 di
perkebunan Silowuk Sawangan dan pada tahun 1938 di Kediri. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa tingkat serangan Helopeltis spp. pada buah kakao yang sering
dikunjungi semut hitam lebih rendah dari pada yang tidak dikunjungi semut.
Pengendalian biologis Helopeltis spp. juga dapat dilakukan
dengan Penyemprotan agen hayati berupa jamur entomopatogen, Beauveria bassiana,
juga dapat dilakukan sebagai cara menggendalikan hama ini. Helopeltis spp. yang
disemprot akan terinfeksi B. bassiana dan mati setelah 2-5 hari setelah
dilakukan penyemprotan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa B. bassiana isolate
Bby-725 dengan dosis 25-50 gram spora/ha cukup efektif untuk mengendalikan
Helopeltis spp. Penyemprotan pada imago Helopeltis spp. mampu menyebabkan
mortalitas 100 %, tetapi penyemprotan pada nimfa menyebabkan mortalitas yang
rendah (70 %). Hal ini dikarenakan nimfa mengalami ganti kulit. Spora yang
mengenai tubuh nimfa Helopeltis spp. akan berkecambah dan melakukan penetrasi. Proses
perkecambahan spora tersebut berlangsung cukup lama, yaitu sekitar 12 jam. Apabila
proses ganti kulit nimfa berlangsung kurang dari 12 jam setelah penyemprotan,
jamur yang telah berkecambah dan menembus kutikula akan terlepas bersama dengan
kulit yang lama sehingga jamur tersebut tidak dapat mematikan nimfa (Wahyudi,
2008).
Jika Anda melakukan penanganan
menggunakan pestisida maka sangat disarankan untuk menggunakan pestisida hayati
dan nabati yang mulai semakin berkembang akan sangat efektif untuk
mengendalikan Helopeltis spp.. Berdasarkan hasil pengamatan secara dini, sampai
saat ini pengendalian hama Helopeltis spp. menggunakan insektisida pada areal
yang terbatas merupakan cara yang umum digunakan karena dianggap paling
efektif, hemat dan dapat mengurangi kemungkinan timbulnya pengaruh sampingan yang
tidak menguntungkan. Lakukan pengamatan setiap 7 hari terhadap seluruh populasi
tanaman dalam suatu areal tertentu untuk mengetahui ada tidaknya serangan
serangga pada buah. Apabila ditemukan serangan, semua buah pada pohon disemprot
dengan insektisida, begitu juga terhadap beberapa pohon disekelilingnya. Dan bila
pohon yang diserang lebih dari 15%, penyemprotan dapat dilakukan secara
menyeluruh. Penggunaan insektisida kimia sintetis memiliki resiko tinggi untuk
digunakan, baik terhadap tenaga pelaksana maupun terhadap agroekosistemnya. Oleh
karena itu, penggunaannya harus bijaksana, yaitu harus tepat jenis, tepat dosis,
tepat cara dan tepat waktu. Sebaiknya penggunaan insektisida hendaknya menjadi
alternatif terakhir dan dilakukan bila ambang kendali telah dilampaui.
*Tombol-tombol diatas mengandung iklan. Untuk menuju artikel yang diinginkan silahkan tunggu 5 detik hingga muncul tombol "skip ad" kemudian klik tombolnya, jika tidak muncul tombol "skip ad" harap refresh halaman tersebut (dimohon keikhlasannya demi eksistensi website ini). Iklan-iklan yang muncul bukanlah virus, Apabila terbuka jendela iklan yang baru (POP UP) silahkan tutup halaman tersebut (tekan tombol kembali untuk pengguna android). Jika tombol tidak bisa diklik silahkan refresh halaman ini.