Wednesday, 23 January 2019

Kreasi Usaha: Hama Kepik Penghisap Buah pada Tanaman Kakao


Hama Kepik Penghisap Buah pada Tanaman Kakao

Indonesia merupakan salah satu negara pembudidaya tanaman kakao dan termasuk negara penghasil kakao terbesar ketiga setelah Ivory-Coast dan Ghana, yang nilai produksinya mencapai 1.315.800 ton/tahun. Usaha budidaya tanaman kakao memiliki prospek yang cukup baik karena kebutuhan biji kakao baik dalam dan luar negeri yang terus bertambah dan belum bisa terpenuhi serta harga jual yang cenderung tinggi pada setahun terakhir (Republika, 2014). Salah satu permasalahan yang terdapat pada usaha budidaya tanaman ini adalah serangan hama dan penyakit. Hama dan penyakit tanaman kakao ini dapat mengakibatkan turunnya hasil panen atau bahkan kematian pada tanaman. Mengingat skala usaha budidaya tanaman ini masih kecil dan sederhana jika serangan hama dan penyakit tidak cepat dikendalikan. Hal ini akan memperparah akibat serangan hama dan penyakit pada tanaman kakao.

Organisme pengganggu tanaman yang menyebabkan penurunan hasil produksi perkebunan kakao adalah serangga. Hama yang banyak ditemukan pada tanaman kakao, diantaranya hama penggerek buah kakao (Conopomopha cramerella) dan kepik pengisap buah (Helopeltis spp.). Hama ini merupakan hama utama pada tanaman kakao (Siswanto dan Karmawati, 2012). Salah satu spesies Helopeltis spp yang berperan dalam penurunan hasil produksi pada perkebunan kakao adalah Helopeltis theivora.

Secara alami serangga hama akan mampu memilih sumber makanan yang disenangi. Serangga akan mempunyai suatu kecenderungan tertentu dalam mengakses sumber makanannya. Perbedaan dalam hal tekstur dan struktur, jenis varietas dan komposisi kimia yang terkandung dalam suatu bahan akan berpengaruh besar pada sifat prefensi tersebut (Yasin, 2009). Hampir 50% dari serangga adalah pemakan tumbuhan (fitofagus), selebihnya pemakan serangga lain atau sisa-sisa tumbuhan dan  binatang (Sodiq, 2009).


Helopeltis theivora termasuk ke dalam ordo Hemiptera, sub ordo Cimicomorpha, famili Miridae, genus Helopeltis (Borror, 1992). Helopeltis theivora merupakan salah satu hama utama kakao yang banyak dijumpai hampir di  seluruh provinsi di Indonesia. Jenis Helopeltis yang menyerang tanaman kakao diketahui lebih dari satu spesies, yaitu H. antonii, H. theivora dan H. Claviver (Karmawati dkk., 2010). Selain menyerang buah, serangga ini juga menyerang pucuk tanaman kakao dengan cara menghisap cairan bagian tanaman tersebut. Serangan pada buah tua tidak terlalu merugikan, sedangkan serangan pada buah muda dan pucuk dapat menyebabkan kematian pucuk dan buah muda tersebut.

Tanaman selain kakao yang sering dijadikan inang oleh kepik pengisap buah di antaranya adalah Teh (Camellia sinensis), Kina (Cinchona sp.), Kapuk (Ceiba petandra), Kayu manis (Cinnamomum burmanni), Rambutan (Nephellium lappaceum), Tephrosia spp dan Jambu Mete (Anacardium occidentale). 

Telur helopeltis diletakkan di dalam jaringan tanaman , telur berwarna putih berbentuk lonjong, diletakkan pada tangkai buah, jaringan kulit buah, tangkai daun, buah atau ranting. Tetapi pada umumnya telur Helopeltis diletakkan pada buah. Telur diletakkan  dengan alat peletak telurnya (ovipositor) ke dalam jaringan tanaman sedalam kira-kira 2-3 m. Pada setiap tempat terdapat 2-3 telur . Tempat-tempat telur diletakkan berbekas noda coklat tua ,dan selain itu juga  di tandai dengan keluarnya sepasang benang halus berwarna putih yang muncul dari setiap ujung telur. Masa inkubasi telur rata-rata 6,4 (6-7) hari. Perkembangan dari telur hingga menjadi dewasa 21-27 hari.


Helopeltis muda ( nimfa ) dan dewasa ( imago ) menyerang kakao dengan cara menusuk dan menghisap cairan sel. Akibatnya timbul bercak-bercak cekung berwarna cokelat-kehitaman ( nekrosis ). Serangan pada buah muda dapat menimbulkan kematian, atau berkembang tetapi permukaan kulitnya menjadi retak  dan bentuknya tidak normal, sehingga menghambat pembentukan biji. Serangan pada ranting dan pucuk menyebabkan layu dan mati ( die back ).

Setelah menetas, nimfa segera menghisap cairan tanaman pada bagian tanaman yang masih lunak , misalnya buah, ujung ranting muda, dan tunas-tunas muda. Pada nimfa muda tidak diketemukan ciri khusus, hanya dijumpai beberapa tonjolan yang tumbuh tegak lurus pada punggungnya. Ujung tonjolan tersebut membengkak seperti gada. selain dicirikan oleh tonjolan, gerakan nimfa lamban dan tidak memiliki sayap serta jarang meninggalkan buah tempat mereka makan. Rata-rata stadium nimfa berlangsung  11,7 (11-13) hari. Nimfa mengalami lima kali pergantian kulit. Nimfa kurang menyukai cahaya matahari langsung. Untuk itu mereka cenderung bersembunyi di bagian-bagian buah dan tunas yang terlindung dan gelap.

Serangga muda (nimfa) dan imago Helopeltis spp. dapat menimbulkan kerusakan terhadap tanaman kakao dengan cara menusukkan alat mulutnya (stylet) ke dalam jaringan tanaman untuk mengisap cairan sel-sel di dalamnya. Bersamaan dengan tusukan stylet itu, Helopeltis spp. akan mengeluarkan cairan yang bersifat racun dari dalam mulutnya yang dapat mematikan jaringan disekitar tusukan.  Akibatnya, timbul bercak-bercak cekung berwarna coklat kehitaman.

Pada Helopeltis dewasa ditandai dengan keluaranya sayap, dan sebuah tonjolan tumpul yang tumbuh tegak lurus pada pungunggnya. Seluruh tubuhnya berwarna hitam, hanya pada bagian abdomen (ekor) belakang di sebelah bawah yang terdapat warna putih. Serangga ini terbang seperti nyamuk . Serangga jantan lebih ramping sedangkan yang betina dicirikan oleh abdomen yang gemuk . Lama hidup serangga betina rata-rata 17,6  (11-28) hari, sedangkan serangga jantan rata-rata 22,1 (11-40) hari. Seekor Helopeltis betina dapat menghasilkan telur rata-rata 121,9 (67-229) butir.


Serangan pada buah muda dapat menyebabkan buah mati.  Bercak pada buah yang terserang berat akan menyatu, sehingga jika buah dapat berkembang terus, permukaan kult buah menjadi retak dan terjadi perubahan bentuk (malformasi) yang dapat menghambat perkembangan biji di dalam buah. Serangan Helopeltis spp. pada pucuk/ranting menyebabkan bercak-bercak cekung di tunas ranting.  Bercak mula-mula bulat dan berwarna coklat kehitaman, kemudian memanjang seiring pertumbuhan tunas itu sendiri. Akibatnya, ranting tanaman akan layu, kering dan mati.

Pada serangan berat, daun-daun gugur dan ranting meranggas. Serangan Helopaltis spp. Dapat menurunkan produksi 36% pada tahun yang sama sejak penyerangan, sedangkan pada tahun berikutnya dapat mencapai 61-75% . serangan yang berulang setiap tahun dapat menimbulkan kerugian sangat besar, karena tanaman tidak sempat tumbuh normal.

Kepik berkembangbiak ketika banyak makanan. Saat makanan langka, mereka bersembunyi pada inang sementara yang berupa gulma di sekitar lahan. Begitu bibit ditanam, kepik akan langsung menyerbu. Tanaman yang diserang oleh kepik ini akan menunjukkan gejala daun dan tunas mengkeriting, kering, dan layu. Buah dan polong muda rusak kemudian rontok. Runas mendadak mengeriting dan layu. Pentil buah mengkriput dan tidak berkembang sempurna atau bentuknya menjadi tidak beraturan. Jika diamati terdapat lubang bekas tusukan pada pangkal. Racun yang dikeluarkan oleh kelenjar ludah kepik akan membuat bagian yang terkena mati atau rusak. Menurut Jumar (2000) makanan merupakan sumber gizi yang diperlukan oleh serangga untuk hidup dan berkembang, jika makanan tersedia dalam kualitas yang cocok dan kuantitas yang cukup, maka populasi serangga akan naik dengan cepat. Sebaliknya, jika keadaan makanan berkurang maka populasi serangga juga akan menurun.


Menurut Susniahti dkk., (2005) Perkembangan Helopeltis banyak dipengaruhi oleh keadaan iklim dan ketersediaan makanan. Pada umumnya keadaan cuaca yang panas dengan kelembaban relatif sekitar 70%-80% cocok bagi perkembangan Helopeltis theivora sehingga populasinya bertambah banyak. Serangan hama ini banyak terjadi pada musim penghujan dan berkurang pada musim kemarau.

Populasi dan serangan hama penghisap buah kakao umumnya meningkat saat musim hujan karena pada musim hujan intensitas penyinaran matahari semakin kecil, kelembaban udara semakin tinggi, dan kecepatan angin semakin rendah. Kondisi seperti ini sangat cocok untuk pertumbuhan dan perkembangan Helopeltis spp. Fluktuasi populasi Helopeltis theivora sangat dipengaruhi oleh sumber makanan dan curah hujan, dimana terdapat korelasi positif antara keduanya (Rita dan Fee, 1992).


Helopeltis spp. merupakan hama pengisap buah kakao yang menyerang tanaman dengan cara menusuk dan menghisap cairan buah muda sehingga menyebabkan matinya buah tersebut. Serangan pada buah berumur sedang mengakibatkan terbentuknya buah abnormal. Akibat serangan hama ini daya hasil dan mutu kakao menurun. Serangan berat Helopeltis spp.dalam satu musim dapat menurunkan daya hasil rata-rata 42% selama tiga tahun berturut-turut. Selain menyerang buah Helopeltis spp. juga menyerang tunas-tunas muda atau pucuk. Serangan berat dan berulang-ulang pada pucuk dapat menekan produksi kakao sekitar 36-75%.

Pengendalian Helopeltis spp pada zaman dahulu adalah dengan cara menangkap secara manual. Biasanya dilakukan oleh anak-anak dan dibayar menurut berapa banyaknya serangga yang ditangkap. Selain itu dengan cara menyuluh, dengan memakai bambu panjang yang ujungnya dilengkapi dengan kaleng yang berisi sehelai kain yang direndam dengan minyak tanah. Alat ini diayun-ayunkan pada buah-buah dan kadang-kadang juga pada cabang dan ranting. Apabila terdapat banyak Helopeltis di tempat-tempat tersebut binatang akan mati karenanya. Namun kedua cara tersebut kurang efektif. Selain itu Anda juga dapat melakukan metode penyelubungan buah. Penyelubungan buah dengan kantong plastik dapat dilakukan pada buah yang berukuran 8-12 cm dan salah satu ujung lainnya dibiarkan terbuka (Atmadja, 2012).

Pemberian pupuk secara tepat dan teratur dapat mengendalikan Helopeltis spp. karena akan meningkatkan pertumbuhan serta ketahanan tanaman. Lakukan pemupukan sesuai dosis dan jangan melakukan pemberian pupuk yang berlebihan.Pemberian unsur hara yang tidak seimbang juga akan mempengaruhi kondisi tanaman. Pemupukan N yang berlebihan mengakibatkan jaringan tanaman menjadi lunak dan mengandung asam amino yang tinggi sehingga disenangi oleh Helopeltis spp. Tanaman yang memperoleh unsur P dalam jumlah cukup lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit karena unsur P akan mempertinggi daya regenerasi tanaman dari kerusakan. Unsur K berperan penting pada proses asimilasi dan bertindak sebagai katalisator. Fungsi lain dari unsur K yaitu untuk memperkuat jaringan tanaman (Atmadja, 2012).

Pada tanaman kakao, Melakukan pemangkasan pada tanaman kakao dapat dilakukan dengan cara membuang tunas air (wiwilan) yang tumbuh di sekitar perempatan dan cabang-cabang utama, karena tunas air akan mengganggu pertumbuhan tanaman dan akan menjadi pesaing dalam pengambilan zat hara dan air. Serangga Helopeltis spp. meletakkan telurnya pada jaringan tanaman yang lunak termasuk tunas air, maka pembuangan tunas secara teratur setiap 2 minggu, akan mengurangi populasi Helopeltis spp.

Anda juga dapat melakukan penanggulangan hama kepik dengan membersihkan gulma di sekitar tanaman utama. Serta melakukan sanisati lahan sebelum penanaman. Anda disarankan pula untuk melakukan tanam secara serentak dan pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang. Tanam serempak dalam satu wilayah administratif untuk menghindari terjadinya populasi tinggi.

Penggunaan predator kepik juga dapat Anda lakukan, Semut rangrang (Oecophylla smaragdina), semut- semut ini merupakan predator dari Helopeltis theivora, adanya semut ini dapat mengurangi perkembangan Helopeltis theivora yang ada pada tanaman kakao. Menurut Siswanto dan Karmawati (2012) Semut hitam (Dolichoderus thoracicus) atau semut rangrang (Oecophylla smaragdina) merupakan predator dari Helopeltis theivora. Semut Hitam (Dolichoderus thoracicus) merupakan salah satu musuh alami yang dapat digunakan untuk mengendalikan Helopeltis spp.  Jenis semut hitam ini merupakan bagian dari agroekosistem perkebunan kakao di Indonesia  yang sudah dikenal sejak lebih dari 80 tahun yang lalu sebagai musuh alami Helopeltis spp., D. thoracicus selalu hidup bersama atau bersimbiosis dengan kutu putih (Planococcus spp.) karena sekresi yang dikeluarkan oleh kutu putih tersebut rasanya manis sehingga sangat disukai semut hitam, sedangkan semut hitam secara sengaja atau tidak sengaja turut membantu menyebarkan nimfa kutu putih. Aktivitas semut hitam yang selalu berada dipermukaan buah menyebabkan Helopeltis spp. tidak sempat menusukkan stiletnya atau bertelur di atas buah kakao sehingga buah pun terbebas dari serangan Helopeltis spp. Wiryadiputra (2007) mengatakan, metode pemapanan semut hitam menggunakan sarang daun kelapa yang dikombinasi dengan inokulasi kutu putih menggunakan sayatan kulit buah kakao yang mengandung kutu putih dan perlakuan kutu putih yang diletakkan dalam kantong daun kakao adalah yang paling baik dan paling cepat untuk pengembangan semut dan kutu putih. Keefektifan predator dalam mengendalikan Helopeltis spp. membutuhkan waktu sekitar dua tahun. Peran predator dalam mengendalikan Helopeltis spp. telah diteliti di beberapa negara. Di Malaysia. Jenis semut yang dominan adalah Dolichoderus thoracicus (Khoo dan Ho 1992), di Australia jenis semut rangrang yang dominan adalah Oecophyla smaragdina. Di India, selain jenis semut, musuh alami yang banyak ditemukan di lapang adalah parasitoid Telenomus sp. dan Chaetricha (Sundararaju 1992). Wijngaarden (2005) menyatakan bahwa Persentase kerusakan buah akibat serangan Helopeltis spp. dengan keberadaan semut yang melimpah di pohon kakao secara signifikan lebih rendah dibandingkan dengan pohon-pohon tanpa semut Oecophylla longinoda. jumlah buah yang rusak adalah sekitar 50 % lebih rendah dibandingkan dengan pohon tanpa semut O. longinoda.  Menurut  Nanopriatno (1978), semut hitam jenis Dolichoderus bituberculatus mempunyai kemampuan untuk mengusir Helopeltis spp. dari tanaman kakao. Predator tersebut pernah diteliti pada tahun 1904 di perkebunan Silowuk Sawangan dan pada tahun 1938 di Kediri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat serangan Helopeltis spp. pada buah kakao yang sering dikunjungi semut hitam lebih rendah dari pada yang tidak dikunjungi semut.

Pengendalian biologis Helopeltis spp. juga dapat dilakukan dengan Penyemprotan agen hayati berupa jamur entomopatogen, Beauveria bassiana, juga dapat dilakukan sebagai cara menggendalikan hama ini. Helopeltis spp. yang disemprot akan terinfeksi B. bassiana dan mati setelah 2-5 hari setelah dilakukan penyemprotan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa B. bassiana isolate Bby-725 dengan dosis 25-50 gram spora/ha cukup efektif untuk mengendalikan Helopeltis spp. Penyemprotan pada imago Helopeltis spp. mampu menyebabkan mortalitas 100 %, tetapi penyemprotan pada nimfa menyebabkan mortalitas yang rendah (70 %). Hal ini dikarenakan nimfa mengalami ganti kulit. Spora yang mengenai tubuh nimfa Helopeltis spp. akan berkecambah dan melakukan penetrasi. Proses perkecambahan spora tersebut berlangsung cukup lama, yaitu sekitar 12 jam. Apabila proses ganti kulit nimfa berlangsung kurang dari 12 jam setelah penyemprotan, jamur yang telah berkecambah dan menembus kutikula akan terlepas bersama dengan kulit yang lama sehingga jamur tersebut tidak dapat mematikan nimfa (Wahyudi, 2008).


Jika Anda melakukan penanganan menggunakan pestisida maka sangat disarankan untuk menggunakan pestisida hayati dan nabati yang mulai semakin berkembang akan sangat efektif untuk mengendalikan Helopeltis spp.. Berdasarkan hasil pengamatan secara dini, sampai saat ini pengendalian hama Helopeltis spp. menggunakan insektisida pada areal yang terbatas merupakan cara yang umum digunakan karena dianggap paling efektif, hemat dan dapat mengurangi kemungkinan timbulnya pengaruh sampingan yang tidak menguntungkan. Lakukan pengamatan setiap 7 hari terhadap seluruh populasi tanaman dalam suatu areal tertentu untuk mengetahui ada tidaknya serangan serangga pada buah. Apabila ditemukan serangan, semua buah pada pohon disemprot dengan insektisida, begitu juga terhadap beberapa pohon disekelilingnya. Dan bila pohon yang diserang lebih dari 15%, penyemprotan dapat dilakukan secara menyeluruh. Penggunaan insektisida kimia sintetis memiliki resiko tinggi untuk digunakan, baik terhadap tenaga pelaksana maupun terhadap agroekosistemnya. Oleh karena itu, penggunaannya harus bijaksana, yaitu harus tepat jenis, tepat dosis, tepat cara dan tepat waktu. Sebaiknya penggunaan insektisida hendaknya menjadi alternatif terakhir dan dilakukan bila ambang kendali telah dilampaui.



*Tombol-tombol diatas mengandung iklan. Untuk menuju artikel yang diinginkan silahkan tunggu 5 detik hingga muncul tombol "skip ad" kemudian klik tombolnya, jika tidak muncul tombol "skip ad" harap refresh halaman tersebut (dimohon keikhlasannya demi eksistensi website ini). Iklan-iklan yang muncul bukanlah virus, Apabila terbuka jendela iklan yang baru (POP UP) silahkan tutup halaman tersebut (tekan tombol kembali untuk pengguna android). Jika tombol tidak bisa diklik silahkan refresh halaman ini.

Kreasi Usaha: Hama Kepik Hitam sebagai Organisme Pengganggu Tanaman


Hama Kepik Hitam sebagai Organisme Pengganggu Tanaman

Kepik hitam merupakan hewan dari famili Plataspididae yang mempunyai ciri morfologi menyerupai kumbang. Kepik ini adalah true bugs, dari ordo Hemiptera. Serangga dewasa berwarna hitammengkilap, berbentuk cembung, dengan skutelum yang besar hampir menutupi seluruh bagian abdomennya. Kepik Plataspidid juga sering disebut kudzu bug, kudzu beetle, globular stink bug dan lablab bug. Serangga ini memiliki alat mulut pencucuk penghisap, dan umumnya merupakan herbivora yang memakan bagian floem dari tanaman. Serangga ini banyak dijumpai pada tanaman kacang-kacangan. Famili Plataspididae terdiri lebih dari 60 genus dan 560 spesies di seluruh dunia. Distribusi serangga ini meliputi berbagai negara di Asia, seperti Cina, India, Indonesia, Jepang, Korea, Malaysia, Myanmar, Pakistan, Srilanka, Taiwan, Thailand dan Vietnam. Satu spesies, Megacopta cribraria, baru-baru ini dikenal sebagai hama kedelai di Amerika Serikat. Dua spesies di antaranya yang terdapat di Indonesia ialah Brachyplatys sp. dan Coptosoma sp.

Genus Brachyplatys memiliki ciri oceli yang terletak saling berdekatan, rasio jarak antara mata dan oceli terhadap jarak interocellar lebih besar dari 1:2; sterna abdominal tidak atau sedikit cembung; kepala melintang, biasanya 0,5-0,7 kali lebar pronotum; pseudoskutelum tidak ada atau kurang berkembang; tubuh rata; warna hitam, kadang-kadang terlihat kuning, sering dengan garis submarginal kuning di kepala, pronotum dan skutelum.

Genus Coptosoma memiliki ciri yaitu oceli yang terdapat di dekat mata; rasio jarak antara mata dan oceli terhadap jarak interocellar kurang dari 1:2; sterna abdominal biasanya cembung; kepala biasanya  sempit, kira-kira 0,3-0,5 kali lebih lebar dari pronotum; dan dasar skutelum (pseudoskutelum) biasanya muncul.


Secara alami serangga hama akan mampu memilih sumber makanan yang disenangi. Serangga akan mempunyai suatu kecenderungan tertentu dalam mengakses sumber makanannya. Perbedaan dalam hal tekstur dan struktur, jenis varietas dan komposisi kimia yang terkandung dalam suatu bahan akan berpengaruh besar pada sifat prefensi tersebut (Yasin, 2009). Hampir 50% dari serangga adalah pemakan tumbuhan (fitofagus), selebihnya pemakan serangga lain atau sisa-sisa tumbuhan dan  binatang (Sodiq, 2009).

Kepik berkembangbiak ketika banyak makanan. Saat makanan langka, mereka bersembunyi pada inang sementara yang berupa gulma di sekitar lahan. Begitu bibit ditanam, kepik akan langsung menyerbu. Tanaman yang diserang oleh kepik ini akan menunjukkan gejala daun dan tunas mengkeriting, kering, dan layu. Buah dan polong muda rusak kemudian rontok. Runas mendadak mengeriting dan layu. Pentil buah mengkriput dan tidak berkembang sempurna atau bentuknya menjadi tidak beraturan. Jika diamati terdapat lubang bekas tusukan pada pangkal. Racun yang dikeluarkan oleh kelenjar ludah kepik akan membuat bagian yang terkena mati atau rusak.


Serangga ini sebagian besar merupakan herbivora yang memakan bagian floem dengan inang yang beragam. Serangga ini juga diketahui menyerang tanaman turi (Sesbania grandiflora), gamal (Gliricida maculata) dan akasia (Acacia sp.). Tanaman gamal dan akasia juga berfungsi sebagai tanaman pelindung pada kebun kakao dan kopi. Tanaman inang yang lain dari jenis holtikultura yaitu kacang panjang, kedelai, kacang koro dan tanaman kacang-kacangan lainnya. Karena kisaran inangnya yang cukup beragam, maka serangga ini berpotensi untuk menjadi hama penting. Serangan kepik ini dalam jumlah banyak pada bagian pucuk menyebabkan pucuk menjadi layu dan mati. Serangan yang tinggi akan menyebabkan daun berguguran kemudian mati. Serangga ini biasanya ditemukan berkelompok pada pangkal ranting dan dapat berpindah ke ranting yang lain.

Ukuran serangga Plataspididae umumnya cukup kecil, dengan panjang 2,5 – 7 mm dan sering ditemukan dalam kelompok-kelompok kecil pada batang, tunas muda dan bunga pada tanaman inang. Genus Coptosoma memiliki ukuran tubuh 2,5 – 5 mm, hampir berbentuk lingkaran, dan Brachyplatys dengan ukuran 5 – 7 mm. Sayap depan lebih panjang dibandingkan dengan tubuhnya, dan dapat dilipat secara melintang di bawah skutelum. Antena terdiri atas 4 ruas dan tarsi 2 ruas.

Kepik Hitam/Kepik Biji mempunyai ciri khusus dengan adanya femur (paha) pada tungkai depan cenderung membesar dan masing-masing mempunyai 4 duri (spina) yang berukuran agak besar dan 4 duri kecil. Kepala berbentuk oval dengan mata ocelli yang menonjol.

Serangga ini mengalami metamorfosis tidak sempurna, tanpa fase pupa. Imago betina meletakkan telurnya pada batang, ranting muda, daun dan buah secara berkelompok dan tersusun dalam 2 baris. Sebelum meletakkan telur, serangga betina menyimpan partikel yang berisi simbion yang kemudian akan dimakan oleh nimfa yang baru menetas. Jumlah telur pada setiap kelompok antara 25-75 butir. Telur berwarna putih berbentuk seperti tabung dengan panjang 1 mm dan diameter 0,5 mm. Masa telur berlangsung antara 7-10 hari. Nimfa yang baru keluar berwarna coklat muda dan berangsur-angsur berubah menjadi coklat tua. Nimfa instar 1 yang baru keluar dari telur akan segera mencari bakteri simbion yang terdapat pada bagian tengah dan belakang telur. Bakteri ini membantu nimfa dalam proses pergantian instar ke instar selanjutnya. Nimfa yang kehilangan akses dengan simbion menunjukkan pertumbuhan yang lebih lambat, ukuran tubuh lebih kecil dan mortalitas yang lebih tinggi. Nimfa instar 2 sampai instar 4 akan mencari makanan pada pucuk tanaman.  Perkembangan nimfa menjadi imago ditandai dengan perubahan dari instar 1 sampai instar 5. Siklus hidup serangga ini yaitu sekitar 30 hari.

Nimfa dan kepik merusak tanaman pada bagian polong dengan cara menusuk stiletnya pada kulit polong dan biji lalu mengisap cairan biji. Serangan pada fase pembentukan dan pertumbuhan polong/biji menyebabkan polong/biji kempis, mengering dan gugur. Serangan pada fase pengisapan biji, menyebabkan biji menjadi hitam dan busuk. Serangan pada polong tua, menyebabkan kualitas biji menurun karena ada bintik hitam pada biji atau biji menjadi keriput. Gejala serangan jelas terlihat pada kulit biji dan kulit polong bagian dalam berupa bintik hitam atau coklat. Kerusakan di lapangan biasanya terjadi bersamaan dengan pengisap polong yang lain dan tanda serangannya tidak dapat dibedakan.

Nimfa dan imago aktif pada pagi dan senja hari. Pada siang hari nimfa dan imago bersembunyi pada pangkal batang. Nimfa instar awal (1-2) umumnya berada pada pangkal batang, mengisap cairan pangkal batang tanaman. Nimfa instar berikutnya dan imago merusak bulir dengan menusukkan stiletnya ke dalam bulir sambil menghisap cairan buah tanaman inang.


Populasi kepik mulai dijumpai di pertanaman sejak fase pembentukan bunga sekitar umur 35 hari setelah tanam (hst) sampai menjelang panen. Stadia tanaman yang paling disukai sekitar umur  58 hst serta puncak populasi imago dan nimfa terjadi pada umur 50 hst. Periode kritis tanaman adalah fase pembentukan polong sampai pengisap biji (49-70 hst).

Kerusakan yang ditimbulkan oleh Kepik Hitam pada tanaman padi antara lain yaitu beras menjadi coklat kehitaman, mudah hancur apabila digiling dan apabila dimasak terasa pahit. Serangga cenderung mengisap bulir-bulir padi pada pagi hari dan serangan ini berimbas pada bulir padi yang kosong serta hasil panen berupa beras memiliki kualitas rendah, sebagian didapatkan pada daun maupun batang. Serangga dapat ditemukan pada tanaman muda sampai dengan tanaman menjelang panen. Pada sore hari serangga sangat aktif bergerak di bagian tanaman dan di bagian tanah, sebagian lagi cenderung bersembunyi di rekahan tanah. Pada setiap rumpun dapat ditemukan  10 – 20 ekor serangga dengan berbagai stadia.


Anda dapat melakukan Penanggulangan hama kepik dengan membersihkan gulma di sekitar tanaman utama. Serta melakukan sanisati lahan sebelum penanaman. Anda disarankan pula untuk melakukan tanam secara serentak dan pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang. Tanam serempak dalam satu wilayah administratif untuk menghindari terjadinya populasi tinggi, pada sitem tanam legowo populasi ditemukan lebih rendah, Pemanfaatan predator laba-laba juga dapat Anda lakukan untuk menggendalikan hama kepik hitam ini. Hasil kajian yang dilakukan di IP3OPT Luwu menunjukkan bahwa entomopatogen ini cukup efektif mengendalikan kepik hitam ini.Dan jika Anda melakukan penanganan menggunakan pestisida maka sangat disarankan untuk menggunakan pestisida hayati dan nabati.



*Tombol-tombol diatas mengandung iklan. Untuk menuju artikel yang diinginkan silahkan tunggu 5 detik hingga muncul tombol "skip ad" kemudian klik tombolnya, jika tidak muncul tombol "skip ad" harap refresh halaman tersebut (dimohon keikhlasannya demi eksistensi website ini). Iklan-iklan yang muncul bukanlah virus, Apabila terbuka jendela iklan yang baru (POP UP) silahkan tutup halaman tersebut (tekan tombol kembali untuk pengguna android). Jika tombol tidak bisa diklik silahkan refresh halaman ini.

Berbagi Tips: Cara Penyemprotkan Pestisida yang Benar – Usaha Pertanian


Cara Penyemprotkan Pestisida yang Benar

Penyemprotan atau aplikasi pestisida merupakan suatu cara yang ditempuh untuk mengendalikan serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) baik itu berupa hama ataupun penyakit agar tidak terjadi kerusakan yang berlebihan pada tanaman sehingga target produksi dari tanaman yang dibudidayakan bisa tercapai sesuai dengan yang di inginkan.

Saat membudidayakan tanaman apa-pun, sudah menjadi rahasia publik bahwa pestisida menjadi pilihan pertama kebanyakan petani untuk mengatasi hama dan penyakit tanaman. Terkadang, bukannya membuat produksi tanaman semakin meningkat, penggunaan pestisida justru membuat tanaman menjadi rusak. Bahkan, pada beberapa kasus, ada petani yang sampai mengalami gagal panen. Padahal, jika pestisida digunakan dengan cara yang salah, tanaman justru akan terancam rusak.

Secara umum, ada beberapa alasan yang membuat petani merasa bahwa penggunaan pestisida sangat penting, yaitu penggunaan pestisida adalah cara yang sangat efektif untuk mengendalikan OPT (Organisme Penganggu Tumbuhan) saat tidak ada masalah resistensi, pestisida dapat digunakan dengan cepat saat dibutuhkan, pestisida sering kali lebih murah, fungsinya untuk membasmi hama, dan berbagai alasan lain.

Pestisida mempunyai bahan utama racun, racun yang terdapat dalam kandungan pestisida ini sangat berbahaya bahkan racun itu bisa membunuh serangga, hewan dan tidak dipungkiri juga sangat berbahaya bagi manusia. Jadi untuk menyemprotkan pestisida, diri kita haruslah aman dan terlindungi supaya tidak terkena atau bahkan menghirup racun.

Faktor yang mempengaruhi penggunaan efektifitas pestisida

Setiap hama tanaman memiliki sifat yang berbeda-beda. sehingga cara perlakuannya juga harus berbeda. Agar penggunaan pestisida secara tepat, kita harus memperhatikan cara serta langkah – langkah pengaplikasian pestisida.

Melakukan penyemprotan dengan cara dan teknik yang tepat juga akan menghindari atau setidaknya meminimalisir kerugian seperti misalnya menghindari pemborosan, menghindari keracunan pada tanaman dan mencegah timbulnya sifat resistan hama terhadap pestisida.

Tepat sasaran
Sebelum memutuskan untuk melakukan penyemprotan, lebih baik kenali dan amati dahulu jenis hama/penyakit yang menyerang tanaman kita, supaya supaya diperoleh sasaran yang tepat dan bisa menentukan jenis pestisida apa yang akan kita aplikasikan.


Jenis – jenis pestisida sangat beragam antara lain yaitu insektisida, akarisida, fungisida, bakterisida, pupuk daun dan ZPT atau zat pengatur tumbuh. Masing-masing jenis memiliki fungsi yang berbeda dan untuk mengendalikan OPT (organisme pengganggu tanaman) yang berbeda pula. Misalnya hama serangga seperti ulat, belalang, lalat buah, oteng-oteng dikendalikan menggunakan insektisida. Hama dari jenis kutu-kutuan seperti tungau, kutu daun, kutu kebul dan trhips dikendalikan menggunakan akarisida. Fungisida digunakan untuk mengendalikan penyakit jamur dan bakterisida berfungsi untuk mengendalikan penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Pupuk daun digunakan untuk memenuhi kebutuhan unsur hara mikro dan ZPT berfungsi untuk merangsang pertumbuhan dan proses fisiologis tanaman.

Dari sekian jenis OPT (hama dan penyakit) yang menganggu tanaman masing-masing memiliki karakter, cara menyerang, sasaran dan sifat yang berbeda. Untuk menggunakan pestisida agar tepat sasaran dan untuk menghindari penggunaan pestisida yang sia-sia diperlukan teknik dan cara yang tepat dalam melakukan penyemprotan.

Apabila hama sasaran adalah jenis serangga, maka penyemprotan sebaiknya dilakukan pada pagi hari sebelum matahari terik.

Apabila pestisida yang digunakan jenis sistemik, maka sprayer diarahkan pada daun bagian bawah dan lakukan penyemprotan pada pagi hari antara pukul 06.00 s/d 10.00 atau sore hari setelah pukul 16.00 karena pada saat itu stomata daun masih terbuka sehingga obat akan mudah masuk.

Penggunaan jenis pestisida tertentu harus sesuai dengan jenis hama yang ingin dibasmi. Jangan sampai kita menggunakan jenis pestisida yang salah, karena alih-alih membasmi hama, penggunaan jenis pestisida yang salah juga dapat berpengaruh pada kualitas tanaman.

Tepat mutu
Yang dimaksud dengan tepat mutu ialah pestisida yang digunakan harus bermutu baik. Untuk itu agar dipilih pestisida yang terdaftar dan diijinkan oleh Komisi Pestisida. Jangan menggunakan pestisida yang tidak terdaftar, sudah kadaluarsa, rusak atau yang diduga palsu karena efikasinya diragukan dan bahkan dapat mengganggu pertumbuhan tanaman.


Baca etiketnya, produk bermutu akan mencantumkan dengan rinci tentang nomor ijin produk, peruntukannya, kode produksi, tanggal produksi, tanggal kadaluarsa, nama dan alamat pembuat. Pestisida yang diijinkan dan beredar di Indonesia ialah yang etiketnya ditulis dengan menggunakan Bahasa Indonesia.

Tepat jenis



Suatu jenis pestisida belum tentu dianjurkan untuk mengendalikan semua jenis OPT pada semua jenis tanaman. Oleh karena itu agar dipilih jenis pestisida yang dianjurkan untuk mengendalikan suatu jenis OPT pada suatu jenis tanaman. Informasi tersebut dapat dilihat pada label atau kemasan pestisida.

Tepat waktu
Ada beberapa hal yang menjadi dasar untuk menentukan kapan sebaiknya kita  mengaplikasikan pestisida pada tanaman, seperti tahap rentan hama, banyaknya hama yang perlu dikendalikan, kondisi lingkungan, serta pengulangan aplikasi pestisida sesuai kebutuhan.


Pada saat serangan hama dan penyakit tanaman sudah mencapai ambang pengendalian merupakan waktu yang tepat untuk aplikasi pestisida. Dalam hal ini yang harus diperhatikan adalah tingkat perkembangan OPT, cuaca dan strategi untuk menghindari/menunda kekebalan hama.

Dalam penggunaan pestisida, ada beberapa tahap yang harus kita tahu, yakni:
-Tahap preventif,yang dilakukan sebelum ada penyerangan hama.
-Tahap berjadwal,yang dilakukan dengan durasi waktu tertentu, misalnya sekali seminggu.
-Tahap kuratif,yang dilakukan sesudah ada serangan hama.
-Tahap berdasarkan ambang pengendalian (banyaknya hama).
-Tepat dosis dan konsentrasi.

Waktu aplikasi pestisida yang tepat berdasarkan keadaan cuaca:
-Jangan menyemprot saat panas terik dan kering.
-Jangan menyemprot saat angin sangat kencang.
-Jangan menyemprot bila hari hujan atau akan hujan.
-Penyemprotan dilakukan bila embun pagi sudah hilang.
Keadaan cuaca yang ideal untuk penyemprotan umumnya adalah pagi hari antara jam 6 - jam 10.30 dan sore hari antara jam 3 - 5.

Dalam membudidayakan tanaman, setiap tahap memiliki aturan waktu tertentu. Untuk menggunakan pestisida sebagai pengendali hama dan penyakit, kita juga harus memperhatikan waktu yang tepat, tidak boleh terus-menerus menggunakan pestisida dengan alasan agar semua hamanya bisa dibasmi.

Tepat dosis
Seperti obat yang diberikan pada manusia yang sedang sakit, pestisida untuk tanaman juga sebaiknya tepat dosis, tidak boleh kurang, apalagi berlebihan. Dosis merupakan takaran pestisida yang dibutuhkan untuk setiap satuan luas. Jadi, petani harus melakukan survei kecil dulu tentang seberapa banyak pestisida yang dibutuhkan untuk luas lahan tertentu.


Penyemprotan harus dicari imbangan yang cocok antara dosis dan konsentrasinya. Baca dulu label yang ada pada kemasan dan berapa dosis yang dianjurkan serta perhatikan konsentrasi untuk aplikasi pestisida tersebut. Jika dosis kurang dari anjuran kemungkinan besar hama/penyakit tidak akan mati dan jika melebihi dari dosis yang dianjurkan ada kemungkinan hama yang terkena sprayer mati, namun hama yang tidak terkena sprayer akan menjadi kebal serta bisa mengakibatkan ledakan hama.

Selain dosis, hal yang tidak kalah penting dalam pengaplikasian pestisida adalah konsentrasi, yaitu banyaknya pestisida yang dibutuhkan untuk setiap satuan aplikasi. Jika petani kurang memperhatikan dosis dan konsentrasi pestisida yang digunakan, maka hal tersebut akan berbahaya bagi kesehatan tanaman.

Untuk menghindari imunitas/kekebalan hama dan demi alasan ekonomis, gunakanlah pestisida nabati terlebih dahulu dan apabila pestisida nabati tidak mampu mengusir hama, maka gunakan campuran antara pestisida nabati dengan pestisida kimia dengan dosis 1/2 takaran yang dianjurkan dan apabila kedua cara diatas sudah tidak mampu mengendalikan hama sasaran, maka baru kita semprot dengan PESTISIDA KIMIA.

Tepat cara
Pengaplikasian pestisida untuk tanaman dapat menggunakan berbagai cara, sesuai kebutuhan, seperti penaburan, penyemprotan, fumigasi, pengasapan, dan sebagainya. Aplikasikan pestisida dengan cara yang sesuai dengan anjuran yang ditetapkan.


Jangan menyiramkan pestisida secara langsung ke tanaman jika anjuran mengatakan bahwa pestisida tersebut seharusnya disemprotkan ke tanaman.

Menyemprotkan pestisida (insektisida, fungisida, herbisida) tidaklah semudah menyemprotkan pupuk daun. Pada penyemprotan pestisida, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, sebelum menyemprot dilakukan. Antara lain yang berhubungan dengan nozzle (muara pancar larutan pada sprayer), sifat pestisida yang akan disemprotkan, waktu penyemprotan, dan perlu tidaknya menambahkan bahan perata-perekat pestisida.

Cara dan apa saja yang harus disiapkan saat menyemprotkan pestisida dengan benar, ikuti penjelasannya  dibawah ini:

-Gunakan alat pelindung diri yang lengkap.
Gunakan pakaian yang bisa melindungi seperti, sepatu kebun, celana panjang, lengan panjang, sarugn tangan, topi, masker, dll.


Jangan makan, minum, dan meroko selama melakukan penyemprotan dan segera cuci tangan serta perlengkapan penyemprotan setelah selesai melakukan penyemprotan. Minumlah segelas susu murni setiap selesai melakukan penyemprotan. Dan jangan bekerja terlalu cape atau terlalu lama karena jika berkeringat akan mempermudah penyerapan pestisida oleh kulit.

Pekerja lain dilarang berada di areal penyemprotan selama berlangsungnya kegiatan penyemprotan pestisida dan jangan masuk ke lahan yang telah selesai dilakukan penyemprotan minimal 1 jam setelah penyemprotan pestisida berlangsung, karena daerah tersebut sudah penuh pestisida.

-Pilih nozzle yang sesuai.
Nozzle untuk menyemprotkan insektisida dan fungisida harus dipilih yang mampu menghasilkan pancaran menyebar seperti kerucut. Ini supaya daerah liputan pestisida bisa luas dan merata. Jenis nozzle yang mampu berbuat demikian disebut cone nozzle. Ini berbeda dengan polijet nozzle, yang pancarannya berbentuk kipas, untuk menyemprotkan herbisida.


Sprayer yang tangkinya terbuat dari logam, hanya dapat dipakai untuk menyemprotkan insektisida atau fungisida, tidak untuk herbisida (sebab herbisida bisa merusak logam). Oleh karena itu sprayer ini hanya bisa dipasangi cone nozzle saja. Tetapi sprayer yang tangkinya terbuat dari plastik, selain bisa digunakan untuk menyemprotkan insektisida dan fungisida, juga bisa dipakai untuk menyemprotkan herbisida (herbisida tidak akan merusak plastik). Karena itu ia bisa dipasangi baik cone nozzle, maupun polijet nozzle. Kalau yang anda miliki itu sprayer jenis ini, maka sebelum dipergunakan menyemprotkan insektisida atau fungisida, mesti dicoba dulu untuk dilihat bentuk pancaran semprotan nozzle-nya.

Jenis sprayer tangan yang biasa dipakai menyemprot tanaman kecil, dan Tree sprayer untuk menyemprot pohon pohon tinggi, umumnya juga mempunyai nozzle yang hasil semprotannya menyerupai kerucut. Kedua jenis sprayer itu bisa untuk menyemprotkan insektisida atau fungisida.

Nozzle yang dipakai juga harus bisa memancarkan larutan dengan butiran-butiran yang halus, agar pestisida bisa tersebar pada permukaan daun tanaman, tidak menempel dalam bentuk gelembung besar yang jarang. Butiran halus hasil semprotan bisa didapat jika nozzle yang digunakan masih dalam keadaan bagus, tidak tersumbat, atau menjadi besar lubangnya karena ditusuk-tusuk. Nozzle yang sudah usang harus diganti dengan yang baru. Dan jangan memperbaiki sprayer dengan tangan telanjang atau digigit.

-Ketahui sifat pestisida.



Pestisida mana yang ingin disemprotkan, mesti disesuaikan dengan tujuannya. Jika tujuannya untuk pencegahan, sebaiknya digunakan pestisida sistemik yang akan diserap dan diedarkan ke seluruh bagian tanaman dan mampu bertahan lama daya efektifitasnya. Sebaliknya jika Anda ingin segera menumpas serangga yang sedang mengganas, maka akan lebih efektif jika yang disemprotkan adalah pestisida kontak, yang mampu membunuh secara langsung, begitu larutan mengenai serangga.

-Mengetahui waktu yang tepat untuk penyemprotan.
Waktu penyemprotan yang baik adalah pada pagi atau sore hari kalau tidak ada angin kencang yang sedang berhembus, serta tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Sehingga tidak akan banyak pestisida yang hilang karena hembusan angin atau guyuran air hujan.


Penyemprotan juga tidak boleh dilakukan sehabis hujan turun. Karena, sehabis hujan permukaan daun masih dalam keadaan basah dan licin, sehingga butiran pestisida yang disemprotkan sukar melekat pada daun.

-Mempergunakan bahan perata-perekat pestisida.



Jika  penyemprotan dilakukan pada musim hujan atau permukaan daun tanaman yang akan disemprot memiliki lapisan lilin, atau banyak ditumbuhi bulu-bulu halus, maka pestisida perlu ditambahkan bahan perata-perekat, yang akan bertugas memperkokoh daya rekat pestisida pada daun. Cara memakainya cukup dengan menambahkan bahan perata-perekat tersebut pada larutan pestisida yang akan disemprotkan, dosisnya bisa dilihat pada petunjuk pemakaian masing-masing bahan perata-perekat.

-Perhatikan kecepatan jalan Anda



Kecepatan jalan yang ideal untuk melakukan penyemprotan pestisida adalah 6 km/jam, kurang dari 6 km/jam menyebabkan pemborosan penggunaan volume semprot sedangkan kecepatan jalan saat menyemprot lebih dari 6 km/jam menjadikan penyemprotan tidak merata.

-Perhatikan tangki/ pompa semprot.



Peralatan semprot seperti tangki semprot dan perlengkapannya dipastikan dalam kondisi baik dan tidak bocor. Di samping persyaratan tersebut, penyemprot punggung harus memiliki tekanan semprot minimal 3 bar dan penyemprot mesin 8-12 bar.

-Jangan semprot tanaman yang akan dipanen dalam waktu dekat, terutama tanaman yang bagian daun dan buahnya untuk dikonsumsi.


Demikian penjelasan tentang apa harus Anda disiapkan saat menyemprotkan Pestisida, diharapkan saat penyemprotan pestisida diri kita aman dan terlindungi sehingga terhindar dari pestisida yang menempel dan yang terhirup.



*Tombol-tombol diatas mengandung iklan. Untuk menuju artikel yang diinginkan silahkan tunggu 5 detik hingga muncul tombol "skip ad" kemudian klik tombolnya, jika tidak muncul tombol "skip ad" harap refresh halaman tersebut (dimohon keikhlasannya demi eksistensi website ini). Iklan-iklan yang muncul bukanlah virus, Apabila terbuka jendela iklan yang baru (POP UP) silahkan tutup halaman tersebut (tekan tombol kembali untuk pengguna android). Jika tombol tidak bisa diklik silahkan refresh halaman ini.

Kreasi Usaha: Manfaat Perekat Pestisida dalam Penyemprotan


Manfaat Perekat Pestisida dalam Penyemprotan

Perekat pestisida pada dasarnya berfungsi untuk menghilangkan tegangan permukaan butir-butir air yang keluar dari ujung nozel sprayer kita. Jadi jangan dibayangkan kalau perekat itu kerjanya seperti lem castol, lem uhu, lem glukol apalagi lem alteco  yang akan membuat pestisida rekat dan kaku ke daun ataupun buah.

Butir-butir air larutan pestisida yang keluar dari lubang nozel sprayer berbentuk bulat dengan ukuran yang sangat kecil. Butir-butir tersebut akan beterbangan kesegala arah dan sebagian akan menempel dipermukaan daun. Ketika butir-butir larutan pestisida tersebut menempel pada permukaan daun akan tetap berbentuk bulat seperti bola dan mudah menggelinding ketanah. Sebagai ilustrasi silahkan anda semprot permukaan daun talas dengan sprayer pasti butiran-butiran air tersebut akan menggelundung. Bisa juga anda lihat pada pagi hari adanya embun yang menempel pada daun. Tidak mau pecahnya bola-bola butiran larutan pestisida  tersebut dikarenakan adanya tegangan permukaan air. Oleh karena itu supaya air tersebut bisa menempel lebih banyak pada daun harus dihilangkan tegangan permukaannya menggunakan perekat pestisida.


Beberapa manfaat utama perekat pestisida:

-Meningkatkan efikasi pestisida ataupun pupuk daun pada tanaman yang memiliki daun berbulu seperti tanaman padi dan jagung. Adanya bulu-bulu yang terdapat pada daun akan menghalangi menempelnya butir-butir larutan pestisida pada permukaan daun dan hal tersebut akan menghambat penyerapan pestisida sistemik serta pupuk daun.

-Meningkatkan efikasi pestisida ataupun pupuk daun yang kita semprotkan pada tanaman yang memiliki daun berlilin seperti daun talas dan daun pisang. Daun-daun yang memiliki lapisan lilin akan sangat sulit diaplikasi pestisida karena air tidak mau menempel dan larutan langsung menggelinding jatuh. Hal tersebut juga terjadi pada saat kita melakukan aplikasi pestisida pada hama yang pada kulitnya terdapat lapisani lilin.

-Meningkatkan efikasi pestisida pada hama yang dilapisi lilin dan hama berbulu seperti kutu kebul ataupun ulat bulu. Secara alamiah memang setiap mahkluk hidup diberi oleh Tuhan perlindungan diri dari ancaman alam. Lapisan lilin dan bulu pada hama sebenarnya adalah alat perlindungan alami dari serangan musuh. Tapi hal tersebut pula yang kadang kala membuat kita kelabakan karena hama tersebut tidak mempan pestisida.

-Meningkatkan efikasi pestisida pada hama yang mempunyai pelindung keras seperti kepik dan belalang besar serta golongan lembing. Jika pada penyemprotan kita menggunakan perekat tentu pestisida akan lebih lama menempel pada  daun. Hal ini akan membantu penetrasi pestisida melalui abdomem atau perut serangga yang biasanya lebih lemah daripada punggung. Dengan pestisida yang menempel pada daun maka akan lebih meningkatkan efikasi jika diaplikasi bersamaan dengan pestisida racun lambung karena akan mudah termakan bersama daun.

-Meningkatkan efikasi pestisida dan pupuk daun ketika hari akan hujan. Pestisida dan pupuk daun yang diaplikasi kemudian selang 1 - 2 jam turun hujan pastinya akan sia-sia karena pestisida dan pupuk daun tersebut akan tercuci oleh air hujan. Dengan menambahkan perekat pada aplikasi pestisida ataupun pupuk daun maka formula tersebut akan cepat terserap oleh daun, sehingga walaupun setelah dilakukan penyemprotan kemudian turun hujan maka efektifitas pestisida akan tetap berfungsi. Dan larutan yang sudah menempel ke daun tentunya akan lebih sulit tercuci oleh air hujan.

-Meningkatkan efikasi pestisida dan pupuk daun ketika hari panas. Seringkali kita mengaplikasi pestisida disaat siang hari diatas jam 10 sehingga matahari sudah terik dan angin sudah kencang. Hal tersebut akan mempercepat penguapan larutan pestisida yang kita aplikasi pada tanaman. Dengan penambahan formula perekat ketika kita mengaplikasi pupuk daun ataupun pestisida sistemik maka hal tersebut akan menjadikan larutan lebih cepat terserap oleh daun sebelum larutan tersebut menguap dan kering.

-Meningkatkan emulsi (kelarutan/ pencampuran) pada larutan pestisida yang akan kita aplikasikan pada tanaman. Dengan penambahan perekat pada larutan pupuk daun akan membantu meningkatkan  homogenitas larutan tersebut, sehingga akan menghambat pengendapan larutan pupuk daun dalam tangki sprayer atau dalam drum pengoplosan.

–Manfaat perekat pestisida yang sering disampaikan oleh para produsen pestisida yaitu sebagai penembus. Beberapa produsen kadang memiliki klaim dengan ditambahkannya formula perekat maka pestisida yang diaplikasikan akan bisa menembus jaringan daun maupun kulit serangga yang terkena pestisida. Meskipun teknologi ini masih terus dalam pengembangan tetapi merupakan terobosan yang jitu dalam bidang agrikultura.

Demikian penjelasan singkat tentang manfaat perekat pestisida, semoga bisa membantu pemahaman para petani Indonesia tentang perekat pestisida. Selamat bertani.



*Tombol-tombol diatas mengandung iklan. Untuk menuju artikel yang diinginkan silahkan tunggu 5 detik hingga muncul tombol "skip ad" kemudian klik tombolnya, jika tidak muncul tombol "skip ad" harap refresh halaman tersebut (dimohon keikhlasannya demi eksistensi website ini). Iklan-iklan yang muncul bukanlah virus, Apabila terbuka jendela iklan yang baru (POP UP) silahkan tutup halaman tersebut (tekan tombol kembali untuk pengguna android). Jika tombol tidak bisa diklik silahkan refresh halaman ini.